tips | Rizkooblogsite - Welcome! Travel Culinary Tips And Reference

Rizkooblogsite - Welcome!: tips

tips

Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts

Wednesday, December 7, 2022

Berwisata dengan Gaya Green Travel


Berwisata dengan Gaya Green Travel

Menikmati perjalanan tentu saja menjadi satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Nah, kali ini kamu dapat mencoba melakukan green travel yang menyenangkan.

Green travel sendiri merupakan sebuah jenis gaya traveling yang sedang berkembang saat ini. Maksud dari green travel ini adalah kamu diperkenankan untuk melakukan perjalanan wisata dengan tetap menjaga lingkungan alam dan kebudayaan destinasi wisata yang sedang kamu kunjungi tersebut.

Hal ini berarti selama perjalanan tersebut, kamu turut serta dalam mengkonservasi tanaman, kehidupan satwa liar, turut serta hidup seperti layaknya warga lokal, dan memberikan kontribusi positif untuk destinasi wisata tersebut.

Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahasnya dalam menikmati perjalanan dengan gaya green travel. Yuk, simak pembahasannya berikut ini.

1. Memilih Destinasi Wisata yang Sesuai dengan Lingkungan

Memilih Destinasi Wisata
Memilih Destinasi Wisata. Credit: Source

Kamu dapat mencoba untuk memilih destinasi wisata yang memiliki gaya green travel. Ada beberapa destinasi wisata yang dapat kamu pilih karena menomor satukan lingkungan.

Ya, dengan demikian tentu saja kamu akan merasakan mengunjungi destinasi wisata tertentu yang menomorsatukan standar proteksi lingkungan, sosial, serta catatan hak manusia.

Nah, beberapa destinasi wisata yang menomorsatukan lingkungan dan dapat kamu kunjungi misalnya adalah The Bahamas, Barbados, Cape Verde, Chili, Dominica, Latvia, Lithuania, Mauritius, Palau dan Uruguay.

Dengan mengunjungi destinasi-destinasi tersebut kamu juga dapat memperhatikan gaya green travel yang sedang kamu lakukan. Menyenangkan bukan ketika bisa mengunjungi destinasi wisata yang memiliki gaya green travel?

2. Memilih Green Hotel

Memilih Green Hotel
Memilih Green Hotel. Credit: Source

Hal pertama yang mesti kamu perhatikan jika ingin memiliki green travel adalah dengan memilih green hotel sebagai penginapanmu selama kamu mengunjungi destinasi-destinasi wisata.

Nah, untuk dapat mengetahui apakah penginapanmu tersebut termasuk dalam green hotel atau tidak, ada beberapa pertanyaan yang dapat kamu tanyakan.

Pertanyaaan itu seperti apakah hotel tersebut dikelola oleh warga lokal. Green hotel berarti hotel tersebut dikelola oleh warga lokal. Jika tidak, perhatikanlah setidaknya hotel tersebut harus mempekerjakan masyarakat lokal yang tinggal di sekitar hotel.

Dengan mempekerjakan masyarakat lokal, hal ini berarti hotel ini termasuk dalam green hotel. Karena itu berarti hotel ini memberikan manfaat bagi masyarakat lokal yang tinggal di sekitar hotel tersebut.

Selain pertanyaan seperti berasal darimanakah staf hotel tersebut, kamu juga dapat mengajukan pertanyaan mengenai seperti apakah program recycle yang dimiliki oleh hotel tersebut.

Maksud dari recycle ini adalah dapat berbentuk seperti composting, sedikitnya tissue yang digunakan di tempat tersebut, penggunaan tas laundry yang tidak sekali pakai, dan lain-lain.

Selain itu, kamu juga dapat mempertanyakan mengenai handuk yang digunakan. Apakah tamu hotel tersebut memiliki kesempatan untuk menggunakan kembali handuk yang tersedia atau tidak.

Penggunaan kembali handuk yang tersedia tentu saja dapat membuat perjalanan green travel-mu menjadi lebih terbantu. Ya, cobalah untuk memilih hotel yang menawarkan pilihan untuk menggunakan kembali handuk yang tersedia.

Selain itu, pertanyakan pula mengenai program apa saja yang dimiliki oleh hotel tersebut untuk mendukung lingkungan. Program yang dapat dimiliki oleh hotel tersebut misalnya adalah efisiensi energy penerangan, penggunaan air daur ulang untuk toilet hotel dan lain-lain.

Green hotel yang baik juga dapat menggunakan alternatif energi lainnya untuk pembangkit energi hotel tersebut. Selain itu, pertanyakanlah juga mengenai bagaimana kontribusi hotel tersebut terhadap komunitas lokal di hotel tersebut.

3. Selama Kamu Tinggal di Hotel Tersebut

Penghematan air
Penghematan air. Credit: Source

Selama kamu tinggal di hotel tersebut, kamu juga dapat menerapkan berbagai tips dan prinsip yang dapat mendukung perjalanan dengan gaya green travel-mu tersebut.

Jika kamu memang tidak dapat mendapatkan hotel dengan jenis green hotel, kamu juga dapat menerapkan berbagai tips dan prinsip yang dapat mendukung perjalanan green travelmu.

Beberapa tips dan prinsip yang dapat kamu lakukan antara lain adalah melakukan penghematan terhadap air. Gunakanlah air dengan sebagai mana mestinya.

Selalu usahakan agar kamu mematikan air ketika kamu sedang menyikat gigimu. Selain itu, pastikan kamu untuk tidak mandi terlalu lama agar air yang kamu gunakan juga tidak begitu banyak.

Prinsip lain yang dapat kamu lakukan adalah ketika kamu memutuskan untuk keluar dari ruangan, pastikan kamu mematikan AC, televisi, lampu, serta berbagai alat listrik yang lainnya.

Dengan menggunakan prinsip tersebut, maka kamu akan turut serta meminimalisir penggunaan energi dan memastikan bahwa kamu menggunakan energy tersebut dengan sebaik-baiknya.

Selama kamu berada di penginapan tersebut, pastikan kamu menggunakan kembali handuk yang tersedia. Hal ini tentu akan lebih baik jika dibandingkan kamu harus menggunakan handuk yang berbeda setiap harinya.

Banyak hotel tidak akan mengganti handukmu jika kamu tetap memastikan bahwa handuk tersebut senantiasa terlihat rapi. Untuk itu, pastikan kamu memastikan handuk yang kamu gunakan agar kamu terlihat rapi.

Untuk lebih memastikan, kamu dapat mencoba untuk menulis catatan kecil pada pihak hotel. Catatan kecil itu guna memastikan agar pihak hotel tidak mengganti handuk tersebut.

Pastikan kamu membawa sendiri perlengkapan mandimu ketika kamu menginap di sebuah hotel. Nah, dengan demikian kamu dapat meminimalisir penggunaan perlengkapan mandi yang disediakan oleh pihak hotel.

Kamu bisa juga memilih untuk membawa perlengkapan mandi tersebut untuk digunakan selama kamu menginap di sana atau membawanya pulang.

Dengan demikian, pihak hotel tidak perlu harus mengganti perlengkapan mandimu tersebut setiap hari. Hal ini tentu memberikan dampak positif terhadap lingkungan, bukan?

Kamu juga dapat memberikan komentar atau masukan kepada pihak hotel. Tunjukkanlah apresiasimu jika kamu berpikir bahwa pihak hotel telah menerapkan system green hotel dengan baik dan jika masih belum baik sistemnya, kamu dapat mencoba untuk memberikan saran dan masukan pada pihak hotel.

4. Perhatikan Caramu Berkeliling di Kota Tersebut

Transportasi Ramah Lingkungan
Transportasi Ramah Lingkungan. Credit: Source

Cara selanjutnya yang bisa kamu lakukan untuk menerapkan prinsip green travel dalam kegiatan wisatamu. Ya, perhatikanlah transportasi yang kamu gunakan untuk berkeliling kota tujuan wisatamu tersebut.

Jika ingin menanamkan gaya green travel, cobalah untuk meminimalisir penggunaan pesawat terbang. Hal ini terutama apabila jarak dari tempat tujuan awalmu menuju destinasi tujuan tidak terlalu jauh.

Ya, mungkin kamu dapat mencoba untuk mempertimbangkan mengenai masalah transportasi yang akan kamu gunakan untuk mencapai destinasi wisata tujuanmu tersebut.

Untuk perjalanan yang lebih pendek, kamu dapat memilih untuk menggunakan kereta. Ya, saat ini tersedia banyak pilihan kereta terutama di daerah Eropa yang dapat kamu gunakan untuk perjalanan wisatamu ini.

Nah, ketika tiba pada bagian meminjam mobil selama berada di kota tujuan, kamu dapat memilih untuk menggunakan city car yang kecil. Ya, hindarilah untuk menggunakan mobil yang besar.

Ketika menggunakan city car yang kecil berarti kamu memilih untuk menghemat bahan bakar. Hal ini konon dapat terjadi karena bahan bakar yang dikonsumsi mobil city car sendiri cenderung lebih hemat jika dibandingkan mobil besar lainnya. Jika memungkinkan, kamu juga dapat menggunakan mobil hybrid atau mobil listrik selama kamu berada di kota tujuan.

Selain itu, ketika kamu berada di kota tujuanmu tersebut, kamu dapat mencoba untuk terus menggunakan transportasi umum. Ya, gunakanlah transportasi umum ketimbang harus menggunakan taksi atau menyewa mobil.

Jika memungkinkan, kamu juga dapat memikirkan untuk menyewa sepeda atau berjalan kaki. Nah, dengan demikian tentu saja hal ini akan membuat green travel-mu menjadi semakin sukses. Tentu akan sangat menyenangkan ketika kita dapat membuat perubahan bagi lingkungan, bukan?

5. Perjalanan Wisata yang Bertanggung Jawab

Wisata dengan tanggung jawab
Wisata dengan tanggung jawab. Credit: Source

Dalam melakukan perjalanan wisata selama berada di suatu tempat, selalu pastikan kamu menerapkan prinsip green travel. Prinsip yang kamu terapkan adalah jangan ambil apapun kecuali foto, serta jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki.

Kamu dapat mencoba untuk mengambil tur yang ramah lingkungan. Caranya adalah pastikan kamu mengambil tur dengan jumlah anggota grup yang tidak begitu besar.

Selain itu, kamu juga dapat mencoba untuk memastikan bahwa kamu akan dipandu oleh seorang pemandu tur yang merupakan warga lokal. Dengan menggunakan pemandu tur yang merupakan warga lokal, maka kamu turut serta mewujudkan green travel.

Menggunakan pemandu tur lokal juga memiliki nilai positif karena hal tersebut berarti bahwa pemandu tur tersebut mengetahui seluk beluk destinasi kota tujuanmu.

Kamu tentu dapat bebas bertanya mengenai seluk beluk destinasi wisatamu. Selain itu, kamu juga dapat bebas bertanya mengenai sejarah destinasi wisata tujuanmu tersebut.

Selain itu, selalu pastikan kamu menyediakan kantong plastik kosong di dalam tasmu. Hal ini akan sangat membantu terutama jika kamu hendak membuang sampah.

Ya, jika kamu merasa sulit untuk mendapatkan tempat sampah, kamu dapat menaruh sampahmu terlebih dahulu di kantong plastik yang kamu bawa. Selain itu, pastikan pula kamu membawa sampahmu tersebut dan baru membuangnya jika kamu menemukan tempat sampah. Hal ini tentu akan berdampak dengan sangat baik bagi lingkungan, bukan?

Hal lain yang dapat kamu lakukan adalah ketika kamu memutuskan untuk melakukan kegiatan snorkeling, pastikan kamu hanya menyentuh terumbu karang yang tersedia di bawah laut.

Ya, jangan ambil apapun yang kamu lihat di dalam laut. Sebaiknya, kamu memang hanya menyaksikan keindahannya dan bersyukur karena diberi kesempatan menikmati keindahan alam di bawah laut.

Ketika kamu hendak membeli oleh-oleh, selalu pastikan kamu membeli oleh-oleh lokal. Jika terasa dibutuhkan, kamu dapat membeli oleh-oleh yang dibuat oleh warga lokal.

Dengan membeli oleh-oleh yang dibuat oleh warga lokal, hal ini berarti kamu menghargai masyarakat lokal. Dan tentu saja hal seperti ini sangat baik untuk mendukung gaya green travel-mu.

Selain itu, cobalah untuk memperlakukan warga lokal dengan sopan. Hargailah kebiasaan mereka walaupun kebiasaan tersebut terasa janggal dan berbeda.

Pelajari pula kebudayaan mereka. Selalu ingat bahwa di sana, kamu-lah yang menjadi tamu sehingga kamulah yang harus beradaptasi dengan warga lokal di sana.

Kamu juga dapat mencoba mempelajari sedikit bahasa lokal jika dibutuhkan. Nah, tentu saja warga lokal akan merasa sangat bahagia melihatmu mengapresiasi bahasa mereka.

Bayangkan saja jika kita yang berada di posisi mereka? Tentu saja akan sangat menyenangkan jika mengetahui ada orang asing yang tertarik dengan kebudayaan kita, bukan?

Selain itu, cobalah untuk mempertimbangkan diri dengan mengikuti kegiatan volunteer yang terdapat di sana. Ya, pastikan kamu juga memikirkan bagaimana caranya agar dapat berkontribusi lebih terhadap destinasi wisata tujuanmu.

Mengikuti kegiatan volunteer memang tentunya dapat menjadi pertimbanganmu terutama jika kamu berniat untuk menghabiskan waktu yang cukup panjang di destinasi wisata tujuanmu tersebut.

Namun, jika kamu tidak berniat untuk menghabiskan waktu di destinasi wisatamu tersebut dalam jumlah yang panjang maka sebaiknya kamu memikirkan kembali untuk mengikuti kegiatan volunteer. Atau bisa juga kamu mengikuti kegiatan volunteer dalam jangka waktu yang sebentar.

6. Pikirkan Masalah Tawar Menawar

Pikirkan masalah tawar menawar
Pikirkan masalah tawar menawar. Credit: Source

Ketika kamu sedang memutuskan untuk mengunjungi suatu destinasi wisata dan berminat untuk membeli oleh-oleh, maka kamu dapat memikirkan masalah tawar-menawar.

Ya, pastikan kamu memiliki trik khusus sebelum kamu membeli oleh-oleh. Nah, cobalah untuk mempraktekan trik tersebut.

Cobalah untuk bertanya pada pihak hotel atau penginapanmu. Ya, cobalah bertanya mengenai berapa biaya yang harus dikeluarkan jika kamu ingin membeli beberapa cinderamata khas destinasi wisata tujuanmu tersebut.

Jangan lupa untuk menanyakan berapa biaya yang harus kamu keluarkan jika harus menawar cinderamata yang ingin kamu beli tersebut. Ya, pastikan kamu mengetahui tips dan trik tersendiri sebelum kamu memutuskan untuk membeli cinderamata tersebut.

Pastikan pula bahwa apa yang akan kamu beli memang merupakan barang yang sangat khas dari destinasi wisata tersebut.

7. Membagi Pengalaman

Berbagi pengalaman
Berbagi pengalaman. Credit: Source

Setibanya di destinasi asalmu, pastikan kamu membagi pengalamanmu kepada orang-orang. Ya, ceritakanlah tipsmu ketika kamu melakukan kegiatan green travel ini.

Ceritakanlah bagaimana persiapanmu sedari awal merencanakan kegiatan wisata ini. Kemudian ceritakan pula bagaimana kamu mencoba untuk merasa lebih dekat dengan warga lokal.

Kamu juga dapat menceritakan bagaimana warga lokal destinasi wisata tujuanmu tersebut telah lebih dekat dengan lingkungan. Bagikanlah sudut pandangmu apakah mereka sudah cukup menghargai lingkungan dengan menggunakan transportasi umum atau belum.

Selain itu, kamu juga dapat memberikan tips dan trik mengenai bagaimana warga lokal menghargai lingkungan mereka sendiri. Cobalah juga untuk berbagi pesan dan kesan mengenai destinasi wisata tujuanmu itu.

Kamu juga dapat memberikan rekomendasi mengenai green hotel yang terdapat di destinasi wisata tersebut. Tentang bagaimana mereka mulai menghargai lingkungan dan menerapkan berbagai cara penghematan agar dapat menjaga lingkungan.

Bagikan pula tips dan trik mengenai menemukan cinderamata lokal. Bagaimana caramu menawar harga barang cinderamata tersebut jika kamu menemukan bahwa cinderamata tersebut memang berharga namun juga dapat kamu miliki dengan harga yang terjangkau.

Kamu juga dapat mencoba untuk berbagi tips mengenai tur guide lokal. Berikanlah tips mengenai bagaimana cara menemukan tur yang menyediakan guide lokal dengan harga yang terjangkau. Tidak lupa tur tersebut juga biasanya memiliki anggota dalam jumlah yang tidak terlalu besar.

Berbagi pengalaman tentu saja akan sangat menyenangkan dan juga bermanfaat. Untuk itu, jangan lupa untuk membagikan pengalamanmu ini.

Nah, itulah dia pembahasan mengenai menikmati perjalanan dengan gaya green travel. Karena sekecil apapun yang kita lakukan untuk lingkungan tentu akan sangat berharga baik untuk hari ini maupun di masa depan.

Happy traveling!

Saturday, December 3, 2022

Mengenal Low Season dan High Season, mana yang kalian pilih?


Mengenal Low Season dan High Season, mana yang kalian pilih?

Dalam dunia traveling, kalian mungkin pernah mendengar istilah ‘high season’, ‘peak season’, ‘low season’, dan ‘shoulder season’. Namun sebetulnya, apa sih definisi dari masing-masing istilah tersebut? Apa artinya ‘high season’? Apa bedanya ‘high season’ dengan ‘peak season’? Benarkah ‘low season’ merupakan momen terbaik untuk melakukan traveling? Dan, apa sih maksudnya ‘shoulder season’ itu?

Yuk, mari kenali perbedaan dari masing-masing istilah tersebut. Dengan mengenali perbedaan antara high season, peak season, low season, dan shoulder season; traveller diharapkan dapat mengenali apa keuntungan dan kerugiannya jika melakukan traveling pada periode-periode tersebut.

Traveller pun bisa mengetahui kapan saja periode high season, peak season, low season, maupun shoulder season di negara tujuan wisata yang diinginkan. Otomatis traveller pun dapat menemukan periode liburan terbaik sesuai dengan selera dan juga budget.

PS: Oya, istilah keempat musim liburan ini sengaja menggunakan istilah aslinya (alias tidak di-Bahasa Indonesia-kan) karena belum menemukan kata serapan yang tepat.

*             *             *             *             *

HIGH SEASON

1. Apa Sih High Season Itu?

High season merupakan musim paling populer untuk pergi liburan; biasanya karena bertepatan dengan periode liburan sekolah atau periode liburan lainnya yang berlaku nasional.

Pantai yang penuh dengan pengunjung. Credit: Source

Ciri utama dari high season ini adalah meningkatnya lalu lintas orang yang akan pergi berlibur, yang otomatis meningkatkan tingkat kepadatan pengunjung di daerah tujuan wisata. Namun, secara umum, peningkatan jumlah wisatawan yang berlibur pada high season ini masih lebih bersahabat dibanding peak season (lihat bagian ‘peak season’ untuk detail lengkapnya).

2. Sisi Positif High Season:

Pada periode high season, cuaca biasanya relatif lebih bersahabat. Cuaca buruk pun relatif jarang terjadi, sehingga kalian bisa lebih leluasa untuk menikmati momen liburan. High season juga biasanya menjadi momen yang tepat untuk menikmati suasana liburan outdoor, seperti melakukan hiking maupun mengunjungi pantai.

Di beberapa negara (khususnya negara-negara Eropa), high season biasanya terjadi pada musim panas. Otomatis sinar matahari lebih lama menyapa hari (kadang bisa sampai di atas jam 9-10 malam).

Karena banyaknya pengunjung, biasanya jam operasional tempat wisata pun lebih panjang dibanding musim liburan lainnya. Tempat wisata pun lebih banyak yang buka, sehingga kalian memiliki lebih banyak pilihan obyek wisata.

High season pun biasanya dimeriahkan dengan berbagai festival seru, entah itu festival musik maupun festival budaya. Contohnya jika kalian bepergian ke Jepang pada high season (kira-kira jatuh pada awal musim semi), biasanya akan ada banyak festival bertema Sakura. Atau jika pergi ke negara-negara Eropa di musim panas, umumnya banyak festival musik yang diadakan pada high season.

Pada high season, biasanya lebih banyak program tour yang diadakan di sebuah tempat. Kalian yang masih bingung menentukan itinerary bisa memanfaatkan aneka program tour yang ditawarkan.

Secara umum, suasana liburan akan lebih terasa karena kalian bisa melihat turis dimana-mana. Namun, tingkat kepadatan wisata di high season ini biasanya masih lebih rendah dibanding peak season, jadi level keramaiannya masih bisa ditoleransi.

Bagi kalian yang suka dengan suasana ramai, high season ini bisa menjadi musim yang menyenangkan karena suasana hostel biasanya lebih ramai dibanding musim lainnya.

3. Sisi Negatif High Season:

Sesuai hukum “supply and demand”, tingginya permintaan wisata pada high season juga membuat harga-harga melonjak. Jangan heran kalau pada high season rate kamar hotel dan hostel lebih tinggi 50-100% dari rate normal.

Begitu juga dengan harga tiket transportasi (seperti pesawat), umumnya lebih tinggi saat periode high season.

Antrian panjang dimana-mana! Sejalan dengan meningkatnya jumlah turis yang memadati sebuah tujuan wisata, jangan heran jika kalian akan melihat antrian yang mengular; mulai dari naik transportasi umum hingga antrian untuk masuk ke tempat wisata. Akibatnya, waktu untuk main dan bersenang-senang pun jadi terbatas karena terlalu lama mengantri.

Untuk negara-negara dengan sistem transportasi massal yang masih belum baik, high season juga bisa menjadi penyebab terjadinya kemacetan dimana-mana.

Bagi kalian yang kurang menyukai suasana ramai, traveling saat high season mungkin akan terasa seperti sebuah hukuman. Habisnya, kemana kalian melangkah, akan ada banyak orang yang bisa kalian temui. Bisa jadi kalian bakalan sulit menikmati keindahan sebuah tempat wisata, karena sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah orang saja.

Biasanya akan lebih sulit menemukan akomodasi yang sesuai budget pada high season. Kalian juga akan lebih sulit menemukan kamar kosong seandainya saja tiba-tiba ingin pindah tempat menginap.

4. Kapan Periode High Season Itu Terjadi?

Jika pertanyaannya adalah “kapan”, maka jawabannya bisa sangat bervariasi. Periode high season bisa berbeda-beda untuk setiap daerah, apalagi setiap negara. Namun sebagai gambaran umum, berikut ini perkiraan high season yang ada di beberapa negara tujuan wisata populer dunia:

Indonesia:

High season di Indonesia terjadi pada periode liburan keagamaan dan liburan nasional seperti pada momen Imlek, libur Lebaran, serta pada liburan sekolah. Untuk Bali, high season juga terjadi selama bulan Agustus, walau pada saat itu tidak semua hotel akan menaikkan harganya pada periode tersebut.

Diluar waktu-waktu tersebut, musim kemarau menjadi musim ramai untuk pariwisata Indonesia. Harga-harga tiket dan hotel biasanya sedikit lebih tinggi pada bulan April-Oktober, yaitu saat hujan (secara teori) lagi jarang-jarangnya menyapa bumi. Pertengahan Juni hingga pertengahan Juli pun kerap dianggap sebagai high season, karena biasanya liburan sekolah terjadi pada waktu-waktu tersebut.

Asia:

High season negara-negara di Asia bisa sangat berbeda satu sama lainnya. Penyebabnya beragam, mulai dari perbedaan musim liburan, hingga perbedaan cuaca antara satu negara dengan negara lain.

Sebagai contoh, high season di Malaysia biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus. Kadang-kadang berlangsung hingga pertengahan September. Namun untuk wilayah Langkawi, biasanya high season terjadi pada bulan Januari-Maret, saat cuaca sedang bersahabat.

Untuk sebagian besar wilayah Thailand, high season terjadi pada bulan November hingga akhir Januari. Beberapa hotel bahkan sengaja memperpanjang high season hingga bulan Maret-April. Pada momen high season ini, harga hotel biasanya naik antara 30-100%. Sedangkan untuk daerah Koh Samui dan beberapa pulau lainnya, high season baru akan dimulai pada bulan Desember.

Sedangkan untuk negara Jepang beda lagi. High season biasanya terjadi pada musim semi, khususnya saat bunga Sakura mulai bermekaran (kira-kira bulan Maret-April), dan saat daun-daun mulai berubah warna di musim gugur.

Eropa:

High season di negara-negara Eropa biasanya jatuh pada musim panas, yaitu antara pertengahan Juni hingga akhir Agustus. Pada momen-momen tersebut, siang hari bisa sangat panjang karena matahari baru tenggelam jam 21.30-22.00. Kebayang nggak, bisa puas banget kan main-main menjelajah berbagai tempat wisata di Eropa saat musim panas?

Amerika & Kanada:

Untuk wilayah Amerika, high season rata-rata terjadi mulai dari musim semi hingga musim gugur, yaitu kira-kira antara bulan Mei hingga September. Untuk wilayah East Coast (seperti Maine, New England, New York, dan Washington DC), bulan Mei-Juni dan September-Oktober bisa dianggap sebagai high season.

Pada waktu tersebut, cuaca betul-betul sedang sangat bersahabat untuk merencanakan traveling. Sedangkan untuk Kanada, bulan April-Oktober kerap dianggap sebagai musim terbaik untuk mengunjungi negara tersebut (high season).

Australia:

Untuk Australia, high season biasanya terjadi antara bulan April hingga September, yaitu saat musim gugur hingga musim semi. Pada masa-masa tersebut, hampir seluruh tempat wisata akan beroperasi.

Menariknya, pada high season ini kadang kalian justru akan mendapatkan berbagai penawaran terbaik, seperti tiket pesawat yang lebih murah dibanding musim lainnya. Masih banyak penawaran menarik lainnya yang akhirnya membuat high season di Australia semakin meriah.

Afrika:

Berminat untuk mengunjungi Afrika Selatan? Jika kalian menyukai suasana wisata yang ramai, berkunjunglah pada periode high season yang jatuh antara bulan Oktober hingga Maret.

*             *             *             *             *

PEAK SEASON

Tembok Besar Cina saat tengah dipadati oleh wisatawan, via kotaku

1. High Season VS Peak Season

Beberapa traveler ada yang menyamakan high season dengan peak season, sehingga musim liburan hanya dibagi menjadi 3 periode saja: high/peak season,low season, dan shoulder season. Namun ada juga yang memisahkan antara high season dan peak season.

Ilustrasi momen padat pengunjung saat peak season. Credit: Source

Perbedaan antara high season dan peak season memang tidak terlalu banyak, sehingga batas antara kedua periode liburan tersebut kadang bias. Walau sebetulnya nggak penting juga untuk diperdebatkan, namun nggak ada salahnya kita mengetahui apa sih bedanya antara high season dengan peak season.

Jika high season disebut-sebut sebagai musim populer untuk berlibur dan identik dengan segala keramaian serta kepadatan turis, maka peak season lebih dari itu. Peak season ini menandakan waktu paling padat dalam sebuah musim liburan; biasanya karena periodenya bertepatan dengan libur nasional maupun libur internasional (seperti pada periode libur akhir tahun dan tahun baru).

Peak season juga bisa terjadi jika ada masa liburan sekolah yang jatuh pada periode high season, sehingga membuat tingkat lalu lintas pariwisata menjadi semakin padat.

2. Sisi Positif Peak Season

Tak jauh beda dengan high season, peak season juga bisa menjadi momen liburan yang menyenangkan, khususnya bagi mereka yang menyukai keramaian.

Karena momen peak season ini kerap bersamaan dengan momen liburan sekolah, kalian nggak akan sulit menemukan obyek wisata ramah keluarga yang beroperasi di peak season (dengan konsekuensi waktu antrian yang lebih lama dan suasana yang lebih padat).

3. Sisi Negatif Peak Season

Harga-harga akan melonjak lebih tinggi dibanding high season. Misalnya saja untuk akomodasi, rate-nya bisa lebih dari 150% dibanding rate normal. Beberapa tempat makan mungkin akan menerapkan charge tambahan yang lebih tinggi dari rate normal.

Tingginya arus wisatawan juga membuat kalian akan lebih sulit lagi menemukan kamar kosong dibanding saat high season. Kalian mungkin harus melakukan booking 2-3 bulan sebelum tanggal yang diinginkan.

Jika suasana wisata saat high season saja sudah dipenuhi oleh wisatawan, maka peak season lebih dari itu. Kalian mungkin harus antri lebih lama lagi untuk bisa memasuki sebuah obyek wisata. Kalian pun mungkin harus ekstra susah payah mencari tempat kosong untuk berjemur di pantai favorit.

Saat high season, kalian mungkin masih bisa menemukan obyek wisata yang masih relatif sepi pengunjung (misalnya saja obyek wisata yang tidak terlalu populer). Namun saat peak season, hampir semua obyek wisata akan dipenuhi oleh pengunjung (dengan tingkat keramaian yang berbeda-beda).

Padatnya arus wisatawan mungkin saja akan membuat sejumlah tempat sengaja menaikkan harga jualnya (lebih tinggi dibanding saat high season).

Jangan heran kalau kalian akan terkena kemacetan yang lebih padat dibanding saat high season, apalagi jika dibandingkan dengan hari biasa.

Kalian akan lebih sulit menawar harga, entah saat naik kendaraan umum/menyewa kendaraan, maupun saat belanja. Itu karena para pedagang umumnya berpikiran, jika selalu akan ada pembeli lain yang membeli barang dagangan mereka.

Untuk beberapa wilayah, tingginya arus wisatawan hampir selalu berbanding lurus dengan tingginya jumlah sampah yang akan kalian lihat di sebuah obyek wisata.

Suasana mungkin saja akan lebih hectic dari biasanya, karena banyak wisatawan yang baru bisa liburan saat peak season, sementara tingkat kepadatan di obyek wisata lebih tinggi dibanding high season. Kalian mungkin akan sulit untuk merasakan suasana liburan yang sesungguhnya, kecuali jika berwisata dipeak season sambil menyewa resort private ya.

4. Kapan Sih Peak Season Itu Terjadi?

Sama seperti high season, periode peak season pun bisa berbeda untuk tiap negara. Namun, bulan Desember-Januari kerap menjadi peak season di banyak negara karena bertepatan dengan periode libur akhir tahun dan tahun baru. Beberapa negara yang memiliki peak season selain bulan Desember-Januari bisa dilihat dibawah ini:

Indonesia dan mayoritas negara lainnya di dunia:

Sama seperti mayoritas negara lain di dunia, peak season di Indonesia umumnya terjadi pada masa liburan akhir tahun dan liburan tahun baru (kira-kira mulai tanggal 20 Desember sampai awal Januari). Australia dan negara-negara di Afrika pun umumnya mengalami peak season saat liburan akhir tahun.

Asia:

Di Malaysia, ada dua periode peak season. Selain pada saat periode liburan akhir tahun-tahun baru, peak season juga kerap terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Kebanyakan negara di Asia dan Timur Tengah memiliki masa liburan sekolah pada bulan-bulan tersebut, dan Malaysia menjadi negara tujuan liburan favorit untuk keluarga yang memiliki anak-anak.

Suasana berbeda bisa kalian temukan di Jepang. Peak season di negara tersebut terjadi tak hanya saat liburan akhir tahun dan tahun baru (27 Desember-4 Januari), namun juga pada periode liburan “Golden Week” (29 April-5 Mei) dan Bon Festival (satu minggu di sekitar tanggal 15 Agustus).

Orang Jepang jarang memiliki waktu liburan, dan mereka baru pergi berlibur pada ketiga periode liburan tersebut. Bagi yang nggak suka keramaian, sebaiknya hindari melakukan wisata ke Jepang pada ketiga momen liburan tersebut.

Sedangkan untuk Korea Selatan, peak season biasanya terjadi pada minggu terakhir di bulan Juli hingga pertengahan Agustus; Jumat terakhir di bulan April-Sabtu pertama di bulan Mei (periode jatuhnya beberapa hari libur yang berdekatan); serta minggu terakhir di bulan Oktober hingga minggu kedua di bulan November.

Amerika, Kanada, Eropa:

Peak season di Amerika dan Kanada terjadi saat musim panas (Juni-Agustus), karena pada saat itu siang hari hangat dan malam hari dingin. Ada banyak paket wisata untuk hiking, sightseeing, tur dalam kota, hingga festival musik. Pada liburan musim panas pun sekolah akan diliburkan, sehingga obyek wisata akan ramai oleh pengunjung.

Di Eropa pun tak jauh berbeda. Umumnya peak season terjadi saat musim panas tiba. Hanya saja, saat bertepatan dengan liburan musim panas, banyak toko yang sengaja tidak beroperasi karena pemiliknya memilih berlibur ke tempat lain.

*             *             *             *             *

LOW SEASON

Pantai yang tampak lengang saat low season. Credit: Source

1. Definisi Low Season

Bagi budget traveller, low season (kadang ada juga yang menyebutnya sebagai ‘off season’) selalu menjadi sahabat terbaik yang dinanti-nanti. Kebalikan darihigh season, low season merupakan musim liburan yang terjadi saat permintaan untuk liburan berkurang drastis dibanding musim liburan lainnya.

Low season biasanya terjadi diluar musim liburan, sehingga tak banyak wisatawan yang bepergian karena sibuk dengan rutinitas masing-masing. Low seasonbisa juga disebabkan karena musim atau iklim di sebuah destinasi wisata sedang kurang bersahabat

Misalnya saja, saat tengah musim hujan atau saat badai sedang sering menyapa sebuah daerah. Karena itulah jumlah wisatawan yang berwisata ke daerah tersebut relatif lebih sedikit dibanding hari biasa, dan suasana pun akan jauh lebih lenggang.

Terdengar menyenangkan ya? Apalagi jika kalian bukan penikmat suasana ramai. Namun tentu saja low season pun juga memiliki sisi positif dan sisi negatif, sama seperti saat high season dan saat peak season. Untuk detailnya, simak di poin B dan C berikut ini:

2. Sisi Positif Low Season

Karena jumlah wisatawan yang berwisata lebih sedikit dibanding musim lainnya, otomatis suasana di destinasi wisata pun jauh lebih lenggang dibanding musim liburan lainnya. Kalian akan lebih bisa menikmati suasana santai dan refreshing disaat low season.

Harga tiket pesawat umumnya jauh lebih murah saat low season. Bahkan terkadang kalian akan mendapatkan penawaran yang betul-betul menarik, misalnya saja promo diskon tiket hingga lebih dari 50%.

Selain harganya lebih murah, moda transportasi juga umumnya tidak terlalu penuh oleh wisatawan, sehingga nggak perlu booking beberapa bulan sebelumnya.

Begitu juga dengan harga kamar hotel, umumnya menawarkan rate yang lebih rendah dibanding musim liburan lainnya. Kadang rate tersebut sudah di-bundling dengan penawaran lain yang nggak kalah asyik seperti include fasilitas sarapan.

Kalian pun akan lebih mudah menemukan paket diskon wisata saat low season, seperti diskon makan di restoran, diskon masuk ke obyek wisata tertentu, dan lain-lain. Kadang ada juga lho yang menawarkan promo bundling tiket pesawat dan kamar hotel, sehingga harganya jauh lebih murah dan bersahabat dengan kantong.

Dan, kalian juga akan lebih mudah menemukan kamar kosong. Malah mungkin saja kalian akan mendapatkan kamar terbaik tanpa harus booking jauh-jauh hari sebelumnya. Untuk beberapa tipe akomodasi, mungkin saja kalian akan bisa menawar harga sehingga menjadi sedikit lebih murah.

Kalian akan lebih mudah menawar barang (saat belanja) karena saingannya tidak terlalu banyak.

Penduduk lokal umumnya lebih terbuka dan ramah saat menyambut wisatawan karena mereka tidak se-stress saat high season dan peak season.

Antrian di berbagai tempat wisata (kecuali tempat wisata super populer seperti Disneyland) tak sebanyak musim lainnya. Jadi kalian nggak perlu menambahkan kata “stress karena kelamaan antri” dalam momen liburan.

Di beberapa negara, banyak yang sengaja mengadakan event-event khusus untuk menarik wisatawan agar mengunjungi negara tersebut saat low season tiba.

Beberapa negara pun justru akan terlihat lebih cantik saat low season. Misalnya saja, kota-kota di Eropa akan terlihat menarik saat tengah diselimuti oleh salju musim dingin.

Secara keseluruhan, harga-harga di sebuah destinasi wisata umumnya jauh lebih rendah saat low season. Otomatis itu membuat pengeluaran jadi lebih bisa ditekan, dan budget traveller bisa lebih leluasa dalam mengatur budget.

3. Sisi Negatif Low Season

Salah satu penyebab terjadinya low season adalah faktor iklim dan cuaca yang kurang bersahabat pada momen-momen tersebut. Karenanya, berwisata saatlow season berarti kalian memiliki resiko lebih besar akan bertemu dengan cuaca yang kurang baik, yang mungkin saja akan memporakporandakan rencana wisata kalian.

Kondisi tersebut juga mengharuskan kalian membawa lebih banyak baju (yang berarti packing lebih berat). Apalagi jika tujuan wisata kalian adalah daerah yang mengalami cuaca ekstrim saat low season.

Di beberapa negara (khususnya negara-negara di Eropa), low season umumnya terjadi pada musim dingin. Konsekuensinya, waktu siang hari jadi lebih pendek dibanding waktu malam hari. Itu artinya waktu untuk kalian mengeksplorasi sesuatu akan jauh lebih singkat dibanding musim lainnya (seperti musim panas).

Musim dingin pun berarti kalian akan sulit menemukan pemandangan yang berwarna-warni seperti pada musim semi, musim panas, dan musim gugur. Walau tentu saja sebagai gantinya kalian dapat melihat-lihat suasana khas musim dingin dan salju (untuk beberapa negara).

Tidak semua tempat wisata beroperasi saat low season. Contohnya seperti pantai.

Kalaupun ada obyek wisata yang beroperasi, biasanya jam operasionalnya lebih singkat saat low season.

4. Kapan Sih Low Season Itu?

Masih tetap berminat merencanakan liburan saat low season? Jika ya, maka kalian perlu banget mengetahui kapan saja low season di berbagai negara tujuan wisata favorit.

Indonesia:

Secara general, low season di Indonesia terjadi saat musim hujan, yaitu antara bulan Oktober hingga April. Namun, karena Indonesia itu luas, tentu saja kita nggak bisa menyamaratakan low season di seluruh Indonesia.

Misalnya saja, untuk wilayah Bali, low season biasanya terjadi mulai tanggal 7 Januari hingga 31 Juni, serta pada bulan Agustus hingga pertengahan Desember. Sedangkan untuk wilayah Nusa Tenggara, Flores, Papua, dan Sumatra; biasanya low season terjadi antara Desember hingga Februari (dengan pengecualian saat liburan akhir tahun dan tahun baru).

Asia:

Sama seperti musim traveling lainnya, low season di berbagai negara Asia pun bisa sangat berbeda-beda. Contohnya, untuk wilayah Langkawi di Malaysia, low season biasanya terjadi pada bulan September dan Oktober; yaitu saat musim penghujan tiba. Sedangkan untuk Thailand, biasanya low season terjadi di antara bulan Mei hingga September.

Low season di Jepang biasanya berkisar setelah musim gugur (kira-kira akhir Oktober-November) hingga menjelang musim semi (bulan Maret), dengan pengecualian saat liburan akhir tahun dan tahun baru.

Namun ada juga beberapa daerah di Jepang yang baru mengalami low season di awal bulan Desember. Korea Selatan pun periode low season-nya tak jauh beda dengan Jepang, dengan pengecualian yang sama di saat liburan akhir tahun dan tahun baru.

Amerika & Kanada:

Beberapa situs traveling mencatat jika low season di mayoritas wilayah Amerika terjadi selama bulan September, serta pada pertengahan Januari hingga akhir Februari. Sedangkan untuk Kanada, low season terjadi pada bulan Oktober dan November, serta pada bulan Januari hingga April.

Eropa:

Low season biasanya terjadi mulai pertengahan November hingga perayaan Paskah.

Australia:

Biasanya low season di Australa terjadi antara bulan Oktober hingga Maret. Pada periode tersebut, mayoritas wilayah Australia akan mengalami cuaca yang terlalu panas.

Banjir pun kerap melanda di beberapa wilayah, dan nyamuk pun sedang banyak-banyaknya (terutama di bulan Januari). Sedangkan untuk kawasan pantai dan laut, sedang tidak aman untuk berenang karena tengah musim ubur-ubur.

Afrika:

Untuk Afrika Selatan, low season terjadi antara bulan April hingga September. Pada bulan-bulan tersebut, cuaca bisa cukup dingin di pagi dan malam hari. Taman-taman tidak terlalu ramai (kecuali saat liburan sekolah). Sisi positifnya, kehidupan alam liar jadi lebih mudah diamati karena vegetasi lebih sedikit dibanding musim lainnya.

*             *             *             *             *

SHOULDER SEASON

Ilustrasi shoulder season. Credit: Source

1. Apa Itu Shoulder Season?

Istilah shoulder season mungkin masih terasa asing di telinga mayoritas traveller. Kebanyakan website traveling (khususnya website traveling Indonesia) biasanya hanya membagi musim liburan menjadi high season dan low season, namun jarang menyinggung tentang shoulder season. Jadi, shoulder season itu apa sih?

Shoulder season (kadang disebut juga sebagai mid season) merupakan sebuah musim liburan yang terjadi di antara high season dan low season. Walau low season disebut-sebut sebagai musim terbaik untuk menekan budget, namun banyak smart traveller berpendapat jika musim liburan terbaik yang sesungguhnya terjadi pada shoulder season.

Seiring berjalannya waktu, dan dengan semakin banyaknya review dari para traveller yang mengulas kelebihan shoulder season, akhir-akhir ini popularitas shoulder season sebagai musim traveling terbaik pun semakin meningkat. Mungkin hanya perlu menunggu waktu saja hingga istilah ini memiliki popularitas setara high season dan low season.

2. Sisi Positif Shoulder Season

Pada periode shoulder season, suasana di destinasi liburan tidak akan seramai saat high season dan peak season, walau memang tidak sesepi saat low season. Otomatis suasana liburan pun akan jauh lebih bisa dinikmati dibanding saat wisata di high season dan peak season.

Kalian akan mendapat penawaran harga yang lebih baik dibanding saat high season dan peak season. Harga tiket pesawat sudah tidak terlalu tinggi, begitu juga dengan rate akomodasi. Jika dibandingkan dengan liburan di high dan peak season, kalian bisa lebih menekan budget dengan berlibur di shoulder season.

Cuaca saat shoulder season pun relatif masih lebih bersahabat dibanding saat low season. Bunga-bunga pun mulai bermekaran dan pepohonan mulai kembali menghijau. Dengan kata lain, kalian akan mendapatkan kombinasi terbaik antara harga dan juga pengalaman berwisata di shoulder season.

Penduduk setempat umumnya sudah tidak terlalu stress dan tegang karena jumlah wisatawan tidak sebanyak saat high atau peak season, sehingga mereka akan siap menyambut wisatawan dengan lebih hangat.

Jika saat high season dan peak season kalian akan sulit mendapat diskon penerbangan maupun diskon rate hotel, maka saat shoulder season banyak maskapai dan hotel yang mulai berlomba-lomba memberikan paket diskon.

Hostel dan hotel sudah tidak terlalu penuh, namun masih cukup menyisakan suasana liburan karena jumlah wisatawan yang menginap disana masih cukup banyak.

Antrian masuk ke sebuah obyek wisata pun sudah nggak sepanjang saat high season dan peak season. Asyik kan?

3. Sisi Negatif Shoulder Season

Shoulder season biasanya terjadi saat pergantian musim. Walau cuaca sudah tidak seekstrim saat high season maupun low season, masalah cuaca tetap saja sulit untuk diprediksi. Kalian mungkin saja akan tetap mendapat hujan, dan itu berarti kalian harus siap membawa payung maupun jaket.

Jika bepergian pada shoulder season di antara musim dingin dan musim semi/panas, mungkin masih ada beberapa obyek wisata yang belum beroperasi. Namun secara keseluruhan, tempat yang bisa dinikmati saat shoulder season masih jauh lebih banyak dibanding saat low season.

Selain itu, bepergian pada shoulder season antara musim dingin dan musim semi (khususnya di negara 4 musim) juga berarti waktu siang hari yang masih relatif lebih pendek dibanding saat musim lainnya. Jam operasional beberapa tempat wisata mungkin saja masih belum sepanjang high season dan peak season.

Harga-harga pastinya belum semurah saat low season. Namun tetap saja masih lebih hemat dibanding saat high season maupun peak season.

4. Shoulder Season di Berbagai Negara

Sama seperti musim traveling lainnya, shoulder season pun bisa sangat berbeda untuk setiap negara. Beberapa shoulder season mungkin masih memiliki irisan waktu dengan high season dan low season.

Jadi, jika kalian berencana untuk melakukan traveling saat shoulder season, tetap lakukan survey lanjutan sebelum menentukan tanggal traveling yang tepat (terutama survey mengenai harga). Sedangkan untuk bocoran destinasinya, intip daftarnya berikut ini:

Indonesia:

Bulan September dan Oktober disebut-sebut sebagai shoulder season-nya wilayah Bali. Pada periode tersebut, hujan masih relatif jarang menyapa bumi, sehingga cuacanya masih cukup bersahabat untuk melakukan petualangan outdoor.

Asia:

Mari mulai dari negara Malaysia lebih dulu. Shoulder season di Malaysia (khususnya di Langkawi) biasanya terjadi pada bulan Maret, April, dan Desember. Untuk negara India, bulan Maret disebut-sebut sebagai waktu ideal untuk traveling kesana sebelum temperatur meningkat drastis.

Sedangkan untuk Thailand, shoulder season biasanya jatuh di bulan Maret dan Oktober. Namun ada juga yang berpendapat jika shoulder season di Thailand itu terjadi di bulan Juni, sebelum turis memadati Thailand di bulan Juli.

Untuk negara Jepang dan Korea Selatan, shoulder season terjadi di bulan Juni dan Juli, serta September hingga Desember. Pada periode tersebut, cuaca masih cukup nyaman untuk dinikmati, walau mungkin saja sesekali kalian akan mendapat hujan.

Amerika dan Kanada:

Shoulder season di Amerika biasanya jatuh di antara bulan April-Juni, serta September-Desember. Tentu saja masing-masing wilayah akan mengalami shoulder season yang berbeda-beda. Sebagai contoh, pulau Karibia dan Patagonia mengalami shoulder season di bulan April, November, dan Desember.

Shoulder season di Costa Rica dan Belize jatuh pada bulan Mei. Meksiko akan mengalami shoulder season di bulan Juni dan Oktober; sementara shoulder season di Nantucket jatuh pada bulan September-Oktober.

Eropa:

Umumnya, shoulder season di mayoritas negara Eropa terjadi di antara pertengahan September hingga akhir November. Selain itu, shoulder season juga bisa dinikmati setelah perayaan Paskah hingga pertengahan bulan Juni. Sedangkan untuk wilayah Mediterania, shoulder season terjadi di bulan April dan Oktober. Berbeda dengan negara Yunani yang mengalami shoulder season di bulan September dan Oktober.

Australia dan Oceania:

Untuk wilayah Australia, shoulder season biasanya terjadi pada bulan Mei-Juni. Sedangkan untuk New Zealand, shoulder season terjadi pada bulan November, Desember, dan bulan April.

Afrika:

Secara umum, shoulder season di Afrika terjadi antara bulan Maret-April dan September-November. Jika didetailkan lagi, negara Botswana mengalami shoulder season di bulan Maret, April, dan November.

Shoulder season di Afrika Selatan jatuh pada bulan September, sementara Moroko mengalami shoulder season di bulan September-Oktober. Sedangkan untuk Kenya, shoulder season di negara tersebut bisa dinikmati pada bulan Oktober dan November.

Dari keempat musim liburan tersebut, mana yang paling menarik untuk kalian?

10 Ide Honeymoon Hemat Tapi Berkesan yang Bisa Kalian Coba Sekarang Juga



Credit: Source

Bagi pasangan yang baru menikah, bulan madu termasuk salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu. Setelah lelah menjadi raja dan ratu selama sehari, serta sibuk beramah tamah dengan keluarga besar, maka bulan madu menjadi saat yang tepat untuk istirahat sejenak sambil mengenal menikmati momen sebagai pasangan baru.

Sayangnya, bagi sebagian pasangan, bulan madu kerap diasosiasikan dengan kata “mahal”. Bulan madu juga identik dengan aktifitas hura-hura yang hanya akan memboroskan tabungan yang sudah terkuras paska pesta pernikahan. Dengan dalih “hidup berumah tangga baru dimulai setelah pesta”, nggak sedikit pasangan yang akhirnya memilih untuk menunda momen bulan madu, atau bahkan melewatkannya sama sekali.

Tapi, kalau kita pikir-pikir lagi, siapa sih yang bikin aturan kalau bulan madu itu harus mahal? Nggak ada kan? Memang sih, jika kalian memilih melancong ke Paris, Maldives, Hawaii, keliling Eropa, bahkan menginap di resort mewah di Bali; jelas saja kalian memerlukan dana liburan yang unlimited. Soalnya tempat-tempat tersebut memang terkenal menawarkan romantisme mewah, yang di klaim bisa membuat bulan madu jadi terasa begitu berkesan.

Credit: Source

Untungnya, nggak semua hal-hal romantis itu harus identik dengan kemewahan yang menguras tabungan. Bulan madu berkesan pun bisa kalian lakukan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. 12 ide berikut ini menawarkan opsi aktifitas bulan madu hemat tapi berkesan, yang bisa kalian lakukan sekarang juga. Tentunya, asal sudah ada pasangannya ya.

1. Nikmati Momen Pertama Sebagai Pasangan Baru dengan Menyewa Rumah di Area Pegunungan.

Credit: Source
Nggak semua pasangan suami istri bisa langsung punya rumah sendiri begitu pesta pernikahan berakhir. Sebagian di antaranya memilih tinggal lebih dulu di rumah orang tua maupun mertua, sambil menabung untuk mencicil membeli rumah idaman. Beberapa bahkan terjebak selama bertahun-tahun tinggal bersama keluarga besar. Kalau sudah seperti itu, boro-boro bisa menikmati momen sebagai suami istri baru. Bisa tidur nyenyak sampai pagi tanpa diganggu oleh kesibukan anggota keluarga lainnya, itu sudah berkah banget deh!

Nah, bagi kalian yang tengah merencanakan bulan madu hemat dan ingin menikmati momen sebagai pasangan baru dengan sepuas hati, cobain tips ini deh. Daripada menghabiskan seluruh tabungan untuk menginap selama satu hari di resort mewah, kenapa nggak mencoba menyewa sebuah rumah untuk beberapa hari? Supaya makin sip, kalian bisa menyewa rumah kecil nan sederhana di daerah pegunungan. Bagi para istri, ini kesempatan untuk menunjukkan keahlian memasak; sementara sang suami bisa memamerkan keahliannya mengatasi masalah rumah tangga sehari-hari.

Ada keuntungan lain jika memilih menyewa rumah kecil di daerah pegunungan. Selain memiliki kesempatan untuk menikmati suasana sebagai pasangan baru, kalian bisa sekaligus menikmati suasana tenang khas pegunungan. Sedangkan di siang hari kalian bisa jalan-jalan santai dan mengenal lingkungan sekitar. Namun, seandainya kalian nggak suka dengan suasana yang terlalu tenang, kalian bisa menyewa rumah mungil dimana saja. Asal, sesuaikan dengan budget yang kalian miliki ya!

2. Untuk Pengalaman Bulan Madu yang Lebih Maksimal, Kalian Bisa Menginap 1-2 Malam di Hotel Mewah di Kotamu.

Credit: Source
Lho, kok menginap di hotel mewah? Bukannya artikel ini tentang tips bulan madu hemat ya?

Oke, tips ini mungkin kontradiktif terhadap kata ‘hemat’. But hey, coba kalian hitung lagi. Jika kalian memilih untuk bulan madu di Paris, Maldives, Hawaii, maupun menginap di resort mewah di Bali; kira-kira berapa biaya yang harus kalian siapkan? Hitung juga biaya pesawat, visa, passport, dan tentu saja biaya transportasi serta biaya lain-lain yang harus kalian siapkan.

Sekarang, bandingkan dengan harga kamar mewah di sebuah hotel mewah di kotamu. Nggak perlu hotel yang mewah-mewah banget deh, asalkan hotel tersebut punya kamar yang cukup ‘wah’ dan ‘wow’ yang belum tentu akan kalian lirik dalam kehidupan sehari-hari. Secara teori, menginap di kamar hotel tersebut barang 1-2 malam harusnya lebih murah dibanding jika kalian harus bepergian ke luar negeri. Terutama karena kalian nggak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang terlalu besar.

Tips tersebut hanya berlaku jika kalian memang memiliki budget untuk itu, dan pernah mempertimbangkan untuk bulan madu ke luar daerah atau ke luar negeri. Dan, jangan memaksakan diri juga seandainya hotel mewah di kota kalian ternyata sekelas Burj Al-Arab (Dubai). Wah, bisa-bisa setelah bulan madu, kalian malah harus kerja rodi untuk membayar semua pengeluaran selama liburan. Kan nggak asyik tuh!

3. Pernah Bermimpi Merayakan Momen Bulan Madu di Atas Kapal? Percaya Deh, Itu Bisa Kalian Lakukan Secara Hemat Lho!

Credit: Source
Beberapa drama romantis kerap mengulas tentang romantisme momen bulan madu sambil melakukan cruise singkat. Naik kapal pesiar mengarungi lautan, menikmati sunset dan sunrise dari atas kapal bersama orang tercinta, candle light dinner; semua terasa bagai mimpi, terutama bagi pasangan baru yang memiliki budget terbatas.

Tapi, saat ini sudah banyak opsi cruise dengan harga terjangkau yang bisa kalian cicipi, lho. Tentunya cruise-cruise ini bukan cruise super mewah yang menjanjikan romantisme berbalut kemegahan; melainkan cruise singkat untuk menjelajah beberapa spot wisata di Indonesia.

Ada cruise yang hanya berputar di satu wilayah yang sama (seperti cruise menyusuri Teluk Jakarta) yang durasinya cukup beberapa jam saja, ada cruise yang mengunjungi beberapa wilayah berdekatan di Indonesia, dan banyak opsi cruise singkat lainnya yang bisa kalian jajal. Atau jika punya budget yang agak longgar, kalian bisa mengikuti cruise singkat ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Aneka cruise singkat tersebut mungkin memiliki cita rasa suasana yang berbeda dari cruise romantis di kapal mewah. Namun, jika ditilik dari segi budget dan pengalaman, cruise singkat tersebut menawarkan pengalaman baru dalam budget yang lebih ramah kantong. Jadi, semua kembali pada kalian, apakah lebih suka mencicipi cruise singkat atau menabung lebih dulu agar bisa mencoba cruise yang lebih mewah.

4. Bagi Pemburu Petualangan, Hiking dan Camping Bisa Jadi Opsi Bulan Madu Romantis Nan Hemat Untuk Dilakukan.

Credit: Source

Tips yang satu ini khusus bagi kalian dan pasangan yang sama-sama hobi melakukan petualangan outdoor. Jika kalian menginginkan bulan madu yang hemat tapi tetap romantis, berarti ini saatnya kalian untuk melirik aktifitas hiking dan camping sebagai pilihan bulan madu.

Hiking dan camping biasanya identik dengan aktifitas outdoor yang kerap dilakukan oleh para muda-mudi. Namun sebetulnya, dengan sedikit tambahan kreatifitas, kalian yang tengah merencanakan bulan madu pun bisa melirik aktifitas ini, lho. Apalagi jika sebelumnya kalian memang sama-sama menyukai aktifitas berbau petualangan.

Adapun poin kreatifitas yang dimaksud dimulai dari memilih lokasi hiking yang asyik. Jika saat masih lajang kalian lebih suka mencari jalur yang menantang, kali ini tak ada salahnya jika kalian sengaja mencari jalur yang melewati pemandangan indah.

Lebih asyik lagi jika jalur hiking tersebut bermuara pada sebuah lokasi camping yang cukup privat untuk pasangan baru, sehingga kalian bisa menikmati momen petualangan sekaligus momen bulan madu dalam satu kesempatan saja. Asyik banget kan?

5. Siapa Bilang Bulan Madu Harus Keluar Kota atau Luar Negeri? Kalian Juga Bisa Menjadi Turis di Kota Sendiri, Kok!

Credit: Source

Siapa sih yang mencetuskan kalau bulan madu tuh harus pergi ke luar kota, luar daerah, atau luar negeri? Nggak ada kan? Inti dari perjalanan bulan madu adalah menghabiskan momen awal yang istimewa bersama pasangan sah, dan itu sama sekali nggak berkaitan dengan lokasi tujuan bulan madu.

Karenanya, jika budget memang terlalu tipis untuk merencanakan perjalanan bulan madu ke luar daerah (atau malah ke luar negeri), nggak ada salahnya kok kalau kalian mencoba jadi turis di kota sendiri. Caranya, coba deh pilih sebuah daerah yang jarang banget kalian jelajahi di kota tempat tinggal kalian.

Jika ada budget untuk menginap di hotel, nggak ada salahnya menjajal tidur di hotel yang ada di daerah tersebut untuk pengalaman ekstra. Hotelnya nggak perlu hotel berbintang. Sekelas bed and breakfast pun cukup, asalkan memiliki suasana yang mendukung untuk momen honeymoon.

Lantas, apa saja yang bisa kalian lakukan setelah itu?

Bersikaplah layaknya turis domestik. Salah satu alasan kenapa disarankan untuk memilih daerah yang tidak terlalu familiar, adalah supaya kalian bisa menjelajah daerah tersebut dan menemukan kesenangan baru.

Mungkin kalian bisa mampir di pusat perbelanjaan yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, menonton film di bioskop yang belum pernah di coba, hingga menjelajah kuliner di sekitar area hotel. Intinya sih, manfaatkan setiap momen dan aktifitas sebagai pasangan baru, sekalipun kalian nggak pergi terlalu jauh dari rumah.

6. Dan, Jika Kalian Sudah Terlalu Sering Jalan-jalan di Kota Sendiri, Pertimbangkan Untuk Menjelajahi Kota Lain yang Nggak Terlalu Jauh dari Rumah.

Credit: Source
Gimana kalau kalian ternyata sudah hapal seluruh pelosok kota tempat tinggal selama ini? Kayaknya bakalan mati gaya deh kalau jadi turis di kota sendiri!

Nah, khusus untuk kalian yang memang sudah bosan menjelajah kota sendiri, kalian bisa kok melirik daerah lain yang sedikit berada di luar kota. Prinsipnya masih sama seperti tips no 5, yaitu kalian memilih hotel di kota tetangga dan jelajahi area di sekitar hotel dengan sepuas hati.

Sebagai contoh, jika selama ini kalian tinggal di Jakarta, kalian bisa memilih Bogor maupun Tangerang untuk dijelajahi. Warga Bandung bisa mencoba main-main ke Sumedang maupun Garut. Sedangkan warga Surabaya bisa main-main ke Malang atau Madura.

Kenapa sih harus memilih kota yang nggak jauh dari tempat tinggal sekarang?

Salah satu alasannya tentu saja dari segi biaya. Menjelajah kota tetangga pastinya akan lebih terjangkau dibanding kalian pergi ke kota yang lebih jauh, atau terbang ke pulau lain. Ingat, nggak perlu memaksakan diri untuk menginap di hotel berbintang ya. Yang penting adalah suasana dan kenyamanan menginap, sehingga nggak mengganggu romantisme berbulan madu.

7. Sudah Tahu Kan Kalau Indonesia Itu Negara Kepulauan? Jadi, Kenapa Nggak Memilih Bulan Madu ke Pulau Lain?

Credit: Source

Sampai disini, ada yang mau protes nggak? Katanya ini tips untuk bulan madu hemat. Tapi kok disuruh untuk pergi ke pulau lain? Memangnya nggak mahal tuh bulan madu lintas pulau seperti itu?

Tenang, santai dulu. Maksud bulan madu lintas pulau ini bukan berarti kalian harus pergi ke pulau yang jauh kok. Tapi, pergilah bulan madu ke pulau yang paling dekat dengan tempat tinggal kalian.

Indonesia itu negara kepulauan. Banyak pulau-pulau kecil yang cantik dan menarik, yang lokasinya nggak begitu jauh dari pulau-pulau besar. Beberapa pulau tersebut malah sudah dikembangkan sebagai kawasan wisata, seperti Kepulauan Seribu yang ada di wilayah DKI Jakarta. Provinsi Banten juga memiliki beberapa pulau yang kerap jadi tujuan wisata favorit. Dan banyak lagi pulau-pulau lain yang siap dijadikan tujuan bulan madu kalian.

8. Namun, Kalau Takut Mabuk Laut, Kalian Bisa Memilih Opsi Bulan Madu di Jalur Darat, Seperti Naik Mobil Keliling-keliling Pulau.

Credit: Source
Seandainya ide untuk menyeberang ke pulau lain terdengar bukan ide yang bagus untuk kalian, ada opsi lain yang bisa kalian pilih dengan menggunakan jalan darat. Misalnya saja, dengan naik mobil dan melakukan long trip ke beberapa kota, atau bahkan mengelilingi pulau.

Dengan melakukan long trip ke beberapa kota, kalian memiliki banyak sekali kesempatan untuk berduaan selama di dalam mobil. Kalian juga bisa mengunjungi kota-kota yang belum pernah disinggahi sebelumnya, dan menemukan petualangan baru yang mungkin nggak terbayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Nggak perlu memusingkan masalah penginapan, karena dewasa ini hampir di semua kota sudah ada penginapan yang murah namun tetap menawarkan kenyamanan.

Ngomong-ngomong, opsi ini sebaiknya hanya dilakukan oleh kalian yang memiliki kendaraan pribadi yang irit bensin. Kalian yang nggak punya kendaraan memang bisa saja menyewa dari rental, namun pastinya kalian harus siap dengan budget yang membengkak karena biaya sewa. Selain itu, privasi kalian mungkin agak sedikit terganggu karena harus berbagi ruang dengan supir (kecuali jika kalian menyewa mobil tanpa supir).

9. Mengaku Punya Jiwa Sosial Tinggi? Kalian Bisa Menjadi Sukarelawan Sambil Berbulan Madu, Lho!

Credit: Source

Jika kalian dan pasangan mengaku punya jiwa sosial yang tinggi, ide yang satu ini mungkin bisa menarik untuk kalian. Sambil melakukan bulan madu, kenapa nggak sekalian saja melamar jadi sukarelawan secara bersama-sama?

Sebelum ada yang protes, coba simak baik-baik penjelasan berikut ini ya.

Kalian mungkin membayangkan tenaga sukarelawan sebagai tenaga bantuan di daerah korban perang atau daerah-daerah yang baru terkena bencana alam. Padahal nggak selalu seperti itu lho. Dewasa ini, ada beberapa organisasi yang menyalurkan sukarelawan ke negara-negara yang membutuhkan tenaga tambahan di bidang lain, seperti pendidikan, konservasi alam, dan sebagainya. Salah satunya seperti menyalurkan sukarelawan ke Maldives.

Di negara tersebut, para sukarelawan dapat membantu sesuai bidang yang diinginkan, seperti mengajar bahasa Inggris, ikut berpartisipasi dalam bidang olah raga, konservasi kelautan, dan banyak opsi lain yang bisa dipilih. Memang sih kalian nggak akan dibayar saat menjadi sukarelawan.

Namun kalian akan mendapat tempat tinggal dan makan/minum gratis. Sebagai bonus, kalian juga bisa memanfaatkan waktu luang di sela kegiatan sosial untuk liburan, lho. Jadi, selain mendapat kesempatan momen liburan yang lebih hemat, kalian bisa sekaligus membantu sesama. Asyik kan?

10. Karena Pesta Pernikahan Bisa Begitu Melelahkan, Kalian Bisa Memilih Aneka Program Retreat Untuk Mengembalikan Stamina, Sekaligus Berbulan Madu.

Credit: Source

Percaya deh, pesta pernikahan itu bisa begitu melelahkan secara fisik dan mental. Sebelum hari H, kalian akan disibukkan oleh bermacam acara fitting, cetak undangan, rapat bersama keluarga besar, hingga melakukan bermacam ritual adat. Belum lagi kalian mungkin harus berjuang menghadapi bermacam konflik yang kadang membuat calon pengantin menjadi bridezilla.

Sedangkan pada hari H, kalian pun harus tahan berdiri selama beberapa jam, memasang senyum manis, sambil mupeng saat melihat para tamu yang kelihatannya asyik menyantap hidangan pesta. Jika sebelum hari H kalian sengaja melakukan diet demi bisa tampil lebih sempurna, bisa jadi ‘penderitaan’ saat pesta pun semakin berlipat ganda.

Untuk mengembalikan stamina setelah pesta, dan melepas seluruh ketegangan sebelum betul-betul terjun berumah tangga yang sesungguhnya, nggak ada salahnya jika kalian mempertimbangkan untuk mengikuti program retreat. Maksud dari program retreat adalah kegiatan menarik diri sejenak dari hingar bingar perkotaan. Aktifitasnya sendiri bervariasi, mulai dari spa, yoga, meditasi, dan lain-lain.

Dewasa ini banyak sekali pilihan program retreat yang diselenggarakan di berbagai kota. Paketnya pun beragam, mulai dari paket singkat dengan harga yang terjangkau, hingga paket liburan selama beberapa hari. Beberapa program retreat bahkan menawarkan paket terapi dan akomodasi dengan harga super miring lho. Tinggal pilih saja mana yang paling sesuai dengan budget, dan selamat menikmati momen bulan madu yang berkesan (dan hemat).