sumatera | Rizkooblogsite - Welcome! Travel Culinary Tips And Reference

Rizkooblogsite - Welcome!: sumatera

sumatera

Showing posts with label sumatera. Show all posts
Showing posts with label sumatera. Show all posts

Thursday, December 1, 2022

Bangunan Etnik Suku Melayu Riau


Balai Adat Melayu Riau
Balai Adat Melayu Riau. Credit: Source

Berbagai pemandangan dengan pesona indah, sepertinya akan menjadi sajian berwisata dikota Pekanbaru. Hal tersebut pastinya sangat menyenangkan, pasalnya kita dapat menyaksikan berbagai keindahan serta keunikan yang ditawarkan dikota ini. Diantaranya yakni, bentuk-bentuk dari bangunan atau rumah adat yang terdapat dihampir setiap sudut kota.

Mulai dari gedung-gedung pemerintahan, hingga berbagai elemen penghias kota, terlihat begitu indah dibangun dengan arsitektur khas peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Terdapat banyak sekali bangunan indah dan dapat kita jadikan sebagai objek wisata dikota Pekanbaru.

Bila diperhatikan lebih seksama bangunan atau rumah adat dikota Pekanbaru khusunya diprovinsi Riau, memang begitu identik serta sangat kental dengan nuansa suku Melayu. Namun, banyaknya ragam kebudayaan yang terdapat diprovinsi ini, menyebabkan terdapat berbagai jenis serta ciri khas tersendiri pada tiap bangunan didaerah-daerah dalam kawasan provinsi tersebut.

Balai Adat Melayu Pulau Penyengat Riau. Credit: Source
Selain itu, kita juga akan mendengar berbagai sebutan yang berbeda-beda pula untuk menyebutkan bangunan atau rumah adat tersebut, yakni Gajah Menyusui di kabupaten Kuantan Singingi, Lancang atau Pecalang dikabupaten Kampar. Wah, banyak sekali bukan?

Nah, Salah satu tujuan rekreasi yang dapat kita kunjungi dipusat kota Pekanbaru, guna menikmati pesona indah yang ditawarkan dari arsitektur khas masyarakat suku Melayu Riau tarsebut, yakni Gedung Balai Rakyat Melayu Riau. Gedung yang dibangun dengan gaya dan design khas suku adat masyarakat Melayu tersebut, terlihat indah serta berdiri dengan mempesona menghiasi Jalan Pangeran Diponegoro, Pekanbaru, Provinsi Riau.

Gedung Balai Rakyat Melayu Riau, pada awalnya dibangun sebagai lokasi guna melakukan berbagai kegiatan musyawarah adat bagi masyarakat suku Melayu Riau, serta menjadi salah satu tempat untuk menggelar berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan lainnya.

Namun, saat ini bangunan tersebut telah menjelma menjadi salah satu objek wisata yang banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan maupun oleh penduduk sekitar.

Keindahan bangunan Gedung Balai Rakyat Melayu Riau, dapat langsung terlihat dari arsitektur bangunannya yang terdiri dari dua lantai tersebut. Kita juga dapat berkeliling disekitar atau masuk kadalam gedung ini, untuk menyaksikan berbagai keindahannya pada segala sisi.

Kita juga dapat menyaksikan salah satu bentuk peninggalan sejarah kebudayaan masyarakat suku Melayu Riau, yakni Gurindam Dua Belas, atau sebuah karya tulis berbentuk syair indah, juga berisi tentang berbagai aturan dalam bentuk nasehat kepada seluruh masyarakat, terlebih kepada para pemimpin dan penguasa Kesultanan Riau guna menuju kebaikan.

Karya yang ditulis oleh Raja Ali Haji tersebut, yang terkenal sebagai pencatat dasar-dasar tata bahasa Melayu pertama, pada diperkirakan telah ditulis sekitar tahun 1847. Dalam berbagai sumber juga menceritakan bahwa Raja Ali Haji menulis karya indah tersebut, disebuah pulau kecil bernama Pulau Penyengat.

Gurindam Dua Belas di Pulau Penyengat. Credit: Source

Disebut dengan Gurindam Dua Belas, dikarenakan terdapat 12 pasal atau aturan, pada karya tulis yang pada akhirnya menjadi salah satu bagian adat dari kebudayaan suku Melayu Riau. Nah, kita dapat menyaksikan bentuk,serta membaca isi dari Gurindam Dua Belas tersebut, pada beberapa sisi bangunan Gedung Balai Rakyat Melayu Riau.

Selain Gedung Balai Rakyat Melayu Riau, kita dapat berpindah dari Jalan Pangeran Diponegoro, menuju Jalan Jendral Sudirman, dikota Pekanbaru. Pasalnya terdapat bangunan lain yang dapat kita kunjungi guna menyaksikan pesona dari bangunan dengan gaya arisitektur khas Kesultanan Siak Sri Indrapura, yakni Gedung Bandar Serai atau Gedung Bandar Seni Raja Ali Haji.

Istana Raja Ali Haji. Credit: Source

Gedung yang didirikan pada tahu 1994 tersebut, pada awalnya merupakan bangunan yang difungsikan sebagai tempat guna melakukan berbagai kegiatan kedaerahan, seperti pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta digunakan sebagai pusat galeri guna memperkenalkan berbagai hasil kesenian dikota Pekanbaru.

Selain itu, berbagai kegiatan pertunjukan musik ala anak muda juga dapat kita saksikan pada Gedung Bandar Serai. Nah, biasanya kegiatan tersebut diselenggarakan pada malam penghujung minggu.

Pesona indah dari Gedung Bandar Serai juga menjadi salah satu objek wisata yang dapat kita nikmati di Pekanbaru, dimana bangunan dengan arsitektur unik khas Kerajaan Siak Sri Indrapura tersebut, terlihat indah menghiasi pemandangan dipusat kota.

Disamping itu kita juga dapat berkeliling disekiar areal Gedung Bandar Serai, guna menikmati pesona dari replica berbagai jenis rumah adat khas suku Melayu Riau yang tersebar diseluruh kabupaten provinsi tersebut.

Gedung Bandar Serai. Credit: Source

Berbagai kegiatan lainnya juga dapat kita lakukan disekitar objek wisata Gedung Bandar Serai, diantaranya yakni bersantai sembari menikmati berbagai sajian kuliner disekitar objek wisata yang juga berada tidak jauh dari okasi bandara udara Sultan Syarif Kasim II tesebut.

Kita dapat menemukan berbagai tempat makan yang menjajakan beraneka jenis makanan dan menuman ringan, serta sajian kuliner khas kota Pekanbaru, diantaranya Gulai Siput Talas, Sayur Ikan Patin Pedas, serta Ikan Selai Selais.

Saat ini disekitar areal Gedung Bandar Serai juga telah dibangun sebuah gedung pertunjukan yang bernama Anjung Seni Idrus Tin Tin. Dimana dilokasi tersebut juga sering diadakan berbagai kegiatan pementasan kesenian serta kebudayaan Melayu. Jadi, pastikan juga untuk tidak melewatkan sajian pertunjukan tersebut?

Nah, mengingat berbagai sajian objek wisata tersebut berada didalam kawasan pusat kota Pekanbaru, jadi bagi wisatawan yang ingin berkeliling dapat dengan mudah mencapai objek wisata tersebut, dengan menggunakan berbagai jenis angkutan umum yang tersedia dikota Pekanbaru.

Wednesday, November 30, 2022

Mencicipi Keunikan Mata Air Aia Tigo Raso


Gerbang Masuk Aia Tigo Raso. Credit: disparpora.agamkab.go.id

Berwisata ke tanah Sumatera berarti kembali lagi ke alam yang masih belum terlalu dijamah tangan manusia. Apalagi di bagian semakin ke utara Sumatera di mana memang alamnya masih cukup liar.

Salah satu yang masih menyimpan keeksotisan alam adalah wilayah Sumatera Barat yang termasuk dalam salah satu tempat yang paling sering dikunjungi di Pulau Sumatera oleh wisatawan. Bagaimana tidak, keindahan alam raya nya khususnya daerah dataran tinggi Sumatera Barat masih belum tercemar campur tangan manusia tak bertanggungjawab sehingga menjadikan daerah tersebut potensi wisata yang menawarkan kesan eksotis.

Ada saja anugerah yang diberikan Tuhan untuk Sumatera Barat ini di panorama alam hijau khas dataran tinggi yang didominasi kawasan lereng dengan tebing-tebing eksotis pasti menemani perjalanan kamu dari kawasan pusat kota Padang hingga ke Bukittinggi bahkan sampai Payakumbuh dan seterusnya.

Beberapa objek wisata populer di Sumatera Barat didominasi oleh tempat-tempat yang letaknya di kawasan pegunungan sekitar Gunung Merapi dan Singgalang. Contohnya seperti wisata yang ada di kota Bukittinggi (Ngarai Sianok, Jam Gadang) dan danau yang paling terkenal di Sumatera Barat yaitu Danau Singkarak dan Danau Maninjau.

Dua danau ini pasti menjadi daerah tujuan wisatawan yang datang ke Sumatera Barat karena terkenal akan keindahannya yang tak kalah dari Danau Toba. Namun di samping keberadaan danau nan eksotik tersebut, ada juga tempat-tempat potensial yang bisa menarik perhatian wisatawan karena keunikannya yang letaknya dekat dari lokasi objek wisata terkenal. Salah satunya adalah Mata Air Tiga Rasa atau populer di kalangan orang Minang dengan nama Aia Tigo Raso yang letaknya dekat dari daerah Danau Maninjau.

Siapapun yang dari dan menuju Danau Maninjau tentu melewati situs mata air yang sangat unik serta istimewa ini. Terletak di pinggir jalan raya antara kawasan Maninjau dan Lubuk Basung dengan jarak 11 km bila kamu jalan dari Lubuk Basung kabupaten Agam, Lokasi mata air ini tentunya sangat mudah ditemukan.

Dengan disambut papan penanda lokasi wisata dan juga gapura selamat datang yang memiliki gaya arsitektur khas Minang, mata air tiga rasa ini berada di antara tanaman-tanaman yang memenuhi lokasi. Kawasan mata air dibuat terbuka dan tidak terlalu terlihat seperti objek wisata sebab kesan dari objek wisata ini adalah seperti mengunjungi kebun yang memiliki kolam kecil di tengahnya.

Bagian utama dari kawasan ini adalah kolam kecil yang disemen di pinggirnya dan memiliki air yang sedikit kecokelatan yang berasal dari dalam bawah tanah. Sesuai dengan judulnya, air yang ada di kolam mini tentunya memiliki 3 rasa yang sangat berbeda yaitu asin, manis dan pahit. Awalnya memang sumber mata air di kolam tersebut ada tiga buah yang masing-masing memiliki rasa berbeda, akan tetapi lama kelamaan ketiganya bercampur menjadi satu dan bersatu di dalam kolam yang dibangun pemerintah daerah tersebut.

Sensasi yang dirasakan setiap pengunjung biasanya berbeda-beda bila meminum air yang aman untuk dikonsumsi ini. Kamu tidak usah merasa ragu atau jijik bila melihat warna kuning kecokelatan seperti karat yang timbul di sekitar kolam sebab itu merupakan efek dari zat pemberi rasa pada air yang bereaksi dengan semen pembatas kolam. Dengan menggunakan gayung yang ada di pinggir kolam pengunjung bebas mencicipi air ini sepuasnya.

Ada yang merasakan rasa manis ketika pertama kali meminumnya, namun pada kesempatan kedua rasanya berubah menjadi asin dan yang ketiga menjadi pahit. Ada juga yang langsung merasakan ketiga sensasi rasa yang seperti ‘nano-nano’ di mulut kita di mana rasa manis, asin dan pahit bercampur jadi satu dan bergantian muncul.

Setiap pengunjung yang datang tidak diwajibkan untuk membayar uang tiket masuk, hanya ada tawaran untuk menyumbangkan uang seikhlasnya untuk biaya perawatan kawasan mata air yang dikelola oleh warga sekitar. Setiap pengunjung juga diberikan kebebasan untuk membawa air ini untuk dibawa pulang dengan botol yang mereka bawa sebab memang mata air ini tidak pernah habis.

Karena keunikannya, ada sekelompok mahasiswa dari universitas di Padang tertarik untuk meneliti kandungan zat dalam air ini untuk mengetahui efeknya diminum orang-orang. Ternyata temuannya membanggakan di mana air tiga rasa ini dinyatakan memiliki efek positif sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Itu adalah bukti secara medisnya, namun warga sekitar juga menganggap air tiga rasa ini memiliki khasiat untuk membuat awet muda yang meminumnya.

Terserah niat kamu dalam meminum air ini, yang jelas air tiga rasa ini memang memiliki khasiat positif yang berguna bagi yang meminumnya. Terutama sejak temuan tersebut diketahui, wisatawan yang datang ke lokasi mata air semakin banyak dengan niatan selain mencicipi keunikan rasa airnya juga berharap bisa menyembuhkan penyakitnya. Tak heran bila Aia Tigo Raso ini menjadi salah satu objek wisata kebanggaan Agam yang walau sederhana namun tetap bisa menarik wisatawan karena keunikannya.

Ayo rasakan keunikan air yang punya rasa asin, manis dan pahit dalam satu tegukan. Pacu kendaraan kamu menuju Lubuk Basung di Kabupaten Agam dan singgahlah di kolam sederhana nan unik ini. kamu juga bisa menjadikan air ini sebagai buah tangan unik khas Agam, untuk itu Jangan lupa membawa botol minuman kosong. Selamat berkunjung. 

Tuesday, November 29, 2022

Wisata Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka


Wisata Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Credit: Source

Siapa yang tidak mengenal tokoh nasional yang satu ini. Beliau adalah seorang sastrawan yang juga menjadi seorang ulama sekaligus politisi, kemampuan sastranya juga sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara, sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Padang Panjang.

Sekarang, Rumah kelahirannya di jadikan sebuah museum agar para penggemar tulisannya bisa sepuasnya melihat-lihat segala macam barang-barang bersejarah yang beliau miliki.

Lokasi dan Transportasi

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini berada tidak jauh dari Danau Maninjau, lebih tepatnya di Jalan Danau Maninjau yang berada di Desa Tanah Sirah, Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Padang Panjang, Sumatera Barat. Akses jalan yang baik memungkinkan kamu untuk menggunakan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi untuk bisa sampai ke lokasi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini.

Pintu Masuk Museum Buya Hamka
Tampak Pintu Masuk Museum. Credit: Source
Jarak antara Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dengan pusat kota Padang Panjang ini mencapai kurang lebih sekitar 53,5 kilometer jadi jika kamu menggunakan kendaraan sendiri seperti mobil mungkin kamu akan menempuh waktu sekitar 1,6 jam perjalanan untuk bisa sampai ke lokasi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka tersebut. Lokasinya juga mudah untuk di temukan karena ada sebuah papan atau palang penunjuk arah di tepi jalan raya.

Dari pusat kota Padang Panjang, ambilah rute yang mengarah ke Jalan Padang Bukit Tinggi, setelah 8 kilometer berjalan, tepat di kecamatan Sungai Puar, berbeloklah ke kiri menuju ke Jalan Bukit tinggi – Maninjau, nah dari sini kamu terus saja berjalan sejauh 21 kilometer hingga sampai ke kecamatan tanjung Raya, patokannya adalah Danau Maninjau.

Jika Danau tersebut sudah terlihat di depan mata maka itu berarti kamu sudah hampir sampai, beloklah ke kiri dengan berjalan di sepanjang Jalan Danau Maninjau, perhatikan di sebelah kiri kamu, jika sudah terlihat palang namanya disebelah kiri kamu, masuk saja ke lorong tersebut dan kamu akan langsung menemukan lokasi dari Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka tersebut.

Namun jika kamu ingin menggunakan kendaraan umum, maka kamu bisa naik bus dari terminal pasar kota Padang Panjang dengan tarif kurang lebih sekitar Rp 10.000*) per orangnya, lalu saat sudah sampai di Tanjung Raya kamu berhenti di Jalan Danau Maninjau, dari sana kamu bisa naik ojek dengan tarif kurang lebih sekitar Rp 4.000*) hingga Rp 6.000*) untuk bisa sampai ke lokasi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini.

Wisata

Di Bawah Lindungan Ka’bah, adalah salah satu novel yang sangat terkenal pada tahun 1938, ceritanya yang sangat menarik, menyentuh, dan juga penuh dengan pesan-pesan moral tersebut akhirnya diangkat kedalam film layar lebar oleh salah satu rumah produksi yang di rilis pada tahun 2011 lalu.

Credit: Source

Tentunya sebagian besar dari kamu yang sudah membaca novelnya atau menonton filmnya pasti setuju kalau cerita karangan Buya Hamka ini memang benar-benar bagus. Buya hamka memanglah sastrawan yang sangat berbakat, tak heran jikalau Rumah kelahirannya yang ada di kota Padang Panjang ini selalu ramai di datangi wisatawan hampir setiap harinya.

Bangunan yang telah di resmikan sebagai museum sejak tanggal 11 November 2001 lalu ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, mungkin hanya sekitar 15×10 meter. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka memiliki bentuk khas seperti rumah gadang dengan gonjongnya yang lancip.

Letak museum ini juga agak tinggi dari permukaan tanah, jadi terlihat seolah-olah sedang berada di atas bukit, untuk masuk ke museum ini, dari parkiran kamu akan menaiki tanggga untuk menuju ke atas.

Credit: Source

Sesampainya di atas, kamu akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya, selain taman yang tertata rapi, kamu juga bisa melihat indahnya Danau Maninjau yang berada tepat di hadapan museum ini.

Untuk masuk dan melihat-lihat ke dalam museum ini kamu tidak akan di kenakan biaya, akan tetapi kamu bisa menyumbangkan seikhlasnya di kotak sumbangan yang telah disediakan untuk dana pengembangan dan perawatan museum.

Walapun museum ini berada di bawah naungan pemerintah, tetapi menurut penjaganya yang sekaligus keponakan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih di kenal dengan nama Buya Hamka ini, pemerintah daerah setempat tidak pernah menurunkan dana untuk perawatan museum, jadi mereka sangat bergantung pada sumbangan sukarela yang di berikan oleh para pengunjung.

Tampak Samping Museum. Credit: Source
Museum ini buka setiap hari, dari jam 08.00 hingga jam 15.00 WIB, namun kalau ramai biasanya museum ini akan tetap buka hingga jam 17.00 WIB. Disini juga terdapat barang-barang yang menjadi milik dari Buya Hamka, mulai dari Pakaian, tongkat, buku-buku yang sering beliau baca, karya tulisnya, beberapa furniture milik beliau, dan tentunya foto-foto beliau semasa hidupnya.

Ada ratusan buku yang beliau miliki, namun tidak sampai sebagian dari buku-buku tersebut berada di museum ini, nah kalau kamu punya, boleh saja jika kamu ingin ikut menjadi donatur bagi museum ini.

Tips

1. Jika kamu ingin mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, akan jauh lebih baik kalau menggunakan kendaraan pribadi saja, hal ini di harapkan tidak membuat anda kerepotan jikalau kamu ingin berkeliling ke tempat-tempat wisata lainnya di sekitar sini seperti Danau Maninjau misalnya, tanpa harus menunggu kendaraan umum lagi.

2. Bawalah kamera jika kamu ingin mengabadikan atau mendokumentasikan gambar dari Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini, amat disayangkan sekali jika kamu tidak mengabadikan keunikan-keunikan yang ada di dalam rumah ini, apalagi tempat ini didukung dengan pemandangan alamnya yang sangat indah.

3. Jika kamu membawa kendaraan sendiri, jangan lupa untuk menambahkan kunci pengaman pada kendaraan kamu, meski memang tidak ada kejadian tindak krimal disana selama ini, namun lebih baik jika kamu tetap waspada dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Ada banyak hal yang bisa kamu temukan di dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, tidak heran jika lokasi wisata yang satu ini cukup ramai di gandrungi oleh para wisatawan dari segala macam lapisan masyarakat.

Nah, tunggu apalagi, ajaklah keluarga dan juga teman-teman kamu untuk menghabiskan masa-masa liburan kamu ke kota Padang Panjang dengan segala keindahan alam yang di tawarkannya, jangan sampai kamu lewatkan dan selamat Berlibur!