mancanegara | Rizkooblogsite - Welcome! Travel Culinary Tips And Reference

Rizkooblogsite - Welcome!: mancanegara

mancanegara

Showing posts with label mancanegara. Show all posts
Showing posts with label mancanegara. Show all posts

Tuesday, December 13, 2022

Sejarah Masjid Turki Hagia Sophia


Sejarah Masjid Turki Hagia Sophia

Kota Istanbul yang indah adalah salah satu kota di Turki yang merupakan tempat tinggal bagi banyak perabadaban sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Kota ini juga merupakan saksi bisu bagi perkembangan kehidupan masyarakat di era Byzantium sekaligus kekaisaran Ottoman.

Hagia Sophia
Hagia Sophia. Credit: Source

Tak heran jika di kota ini banyak sekali di jumpai beragam bangunan yang memiliki karakteristik arsitektur kedua era tersebut. Beberapa bangunan juga merupakan hasil kombinasi keduanya. Salah satunya adalah Hagia Sophia.

Awalnya Hagia Sophia adalah sebuah gereja orthodox. Namun bangunannya juga sempat di gunakan sebagai tempat ibadah kaum muslim. Kini, oleh pemerintah Turki, bangunan yang didirikan oleh Raja Justinan di era Byzantium tersebut digunakan sebagai museum yang menyimpan beragam bukti kejayaan kekaisaran Byzantium sekaligus keagungan kekaisaran Ottoman.

Hagia Sophia adalah penamaan Yunani bagi bangunan destinasi wisata yang menarik ini. Dalam bahasa Latin, bangunannya juga di sebut Sancta Sophia. Sementara warga setempat kerap menyebut bangunan yang berada di kawasan Sultan Ahmet, Istanbul ini dengan nama Ayasofya.

Bagian dalam Hagia Sophia
Bagian dalam Hagia Sophia. Credit: Source

Menurut salah seorang ahli sejarah (Prof. Robert Osterhout), Hagia Sophia di bangun untuk menyaingi gereja agung St. Polyeuchtos yang di bangun oleh Julia Anitzia milik kekaisaran Theodisian.

Gereja St. Polyeuchtos sendiri adalah simbol bagi kekuasaan dan legitimasi atas keberadaan kekaisaran Byzantium. Karenanya Justinian I yang berkuasa kala itu bermaksud membangun sebuah bangunan untuk menandinginya. Dan tampaknya tujuannya terlaksana. Paling tidak sampai gereja St. Peter Basilica di dirikan di Roma beberapa ribu tahun kemudian.

Berdiri bagaikan oasis di tengah panasnya cuaca kota Istanbul, di Hagia Sophia akan terdengar beragam bahasa yang terdengar dari wisatawan yang berasal dari negara-negara di benua eropa, amerika, asia dan australia.

Meski juga berbeda agama, namun satu hal yang menyamakan mereka adalah kekaguman atas keberadaan bangunan tersebut. Usianya, sejarah masa lalunya serta keagungan arsitekturnya menjadikan setiap pengunjung tak bakalan menyesal datang kesana. Destinasi wisata ini selalu ramai di kunjungi oleh para wisatawan. Bahkan saat off-season sekalipun. Pengunjung yang datang harus rela mengantri sebelum bisa memasukinya.

Mimbar Hagia Sophia
Mimbar Hagia Sophia. Credit: Source

Saat pembangunannya dulu, desain yang digunakan oleh arsitek Hagia Sophia (Anthemius of Tralles dan Isidorus of Miletus) sedikit berbeda dengan desain bangunan-bangunan lain yang sudah terbangun sebelumnya. Meski tetap memiliki bentuk persegi panjang, Hagia Sophia di lengkapi dengan kubah diatasnya.

Material kubahnya juga sangat khusus. Bahan yang di gunakan untuk membentuk kubah adalah batu bata ringan yang hanya bisa di temukan di kepulauan Rhodes. Sementara pilar-pilar berukuran besar yang menopang kubahnya berada di bagian utara dan selatan bangunan dan letaknya berkesan tersembunyi.

Saat kekaisaran Ottoman berkuasa di Konstantinopel semenjak 1453, oleh raja Mehmet bangunannya digunakan sebagai tempat ibadah. Hagia Sophia pun terus di gunakan sebagai masjid bagi warga yang memeluk agama Islam hingga Kemal Atuturk yang memimpin di kawasan tersebut merubah fungsinya menjadi sebuah museum di tahun 1935.

Meski adalah sebuah museum, semenjak tahun 2007 salah satu ruangan yang berada di bagian timur bangunan Hagia Sophia dipergunakan sebagai area ibadah warga yang beragama Islam. Panggilan adzan kerap di lakukan dari atas sebuah menara yang ada di bagian atas ruangannya. Hagia Sophia sendiri memiliki 4 buah menara yang menjulang di atas bangunannya.

Hagia Sophia dengan 4 menara
Hagia Sophia dengan 4 menara. Credit: Source

Pengunjung yang berada di dalamnya bisa menyaksikan deretan mosaic khas abad ke-6. Terdapat kurang lebih 30 juta potongan-potongan kecil mosaic menghiasi bagian dalam bangunan ini. Kebanyakan berada di bagian kubah (sebelah dalam).

Sayangnya potongan-potongan mosaic tersebut adalah hasil restorasi dari mosaik-mosaik asli yang telah berumur 1500 tahun lamanya. Namun keindahannya masih tetap bisa dinikmati oleh pelancong dan wisatawan yang bertandang kesana.

Di abad ke 16 dan 17, penguasa kekaisaran Ottoman kala itu menambahkan mimbar, mihrab dan lembaran-lembaran kayu berornamaen sebagai penambah dekorasi ruangan. Saat Sultan Mahmud I berkuasa, sebuah ruangan perpustakaan juga di bangun di sana. Keramik-keramik yang berada di lantai bagian dalamnya kebanyakan berasal dari hasil renovasi kekaisaran Ottoman pada abad ke-16.

Sultan Mahmud I jugalah yang membangun air mancur dan sebuah bangunan sekolah di halaman bangunan Hagia Sophia. Sementara ruangan ‘penjaga waktu sholat’ di bangun oleh Sultan Abdul Mejid.

Ada juga 3 ruangan khusus yang di peruntukan bagi Sultan Murad III, Sultan Mehmed III, dan Sultan Selim II beserta permaisurinya. Ruangan-ruangan tersebut semuanya berada di pekarangan bagian selatan Hagia Sophia.

Taman bunga di sekitar Hagia Sophia
Taman bunga di sekitar Hagia Sophia. Credit: Source

Bagi yang ingin berkunjung ke Hagia Sophia di bulan April hingga Oktober, destinasi wisata ini sudah bisa di datangi sejak pukul 09.00 pagi hingga 19.00 malam hari. Bagi yang berkunjung di bulan November hingga Maret bisa berkunjung pada pukul 09.00 pagi hingga pukul 16.30 petang hari. Tiket masuk bisa di peroleh dengan harga 25 TL atau sekitar US $14*.

Tips : bagi pemegang Museum Pass Istanbul (tiket terusan untuk museum), Hagia Sophia bisa dikunjungi tanpa harus membeli tiket dan ikut menunggu dalam antrian. Tiket terusan seperti ini bisa di dapatkan di hotel-hotel ber-bintang 4 atau 5, penjual kartu telepon seluler atau Tourism Information Centre dengan harga 72 TL (sekitar US $39.5)*. Tiket terusan ini berlaku selama 72 jam.

*harga bisa berubah sewaktu-waktu

Thursday, December 1, 2022

Melihat Distrik Itaewon, Eropanya Kota Seoul


Melihat Itaewon, Eropanya Kota Seoul

Suasana jalanan Itaewon di malam hari. Credit: Source

Bila kamu ingin mengunjungi lokasi yang berbeda saat sedang berada di Seoul, kamu bisa melangkahkan kaki menuju Itaewon. Area yang dikenal sebagai pusatnya orang – orang berkulit putih di Seoul. Itaewon sendiri, selain terlihat unik karena puluhan bule berlalu lalang, juga karena deretan toko – toko antik yang tersebar di sepanjang jalannya.

Itaewon memang paling populer di kalangan wisatawan yang datang dari belahan dunia barat. Terutama bagi mereka yang merencanakan untuk tinggal agak lama di Seoul. Di area ini, hampir semua kebutuhan wisatawan asing bisa dengan mudah ditemui. Satu yang paling krusial adalah mengenai pakaian.

Mudah saja, ukuran tubuh orang Asia Timur memang terhitung cukup kecil bila dibandingkan dengan ukuran tubuh bule. Nah, Itaewon adalah jujukan utama bagi mereka yang ingin mencari pakaian dalam ukuran besar. Perkara kecil sebenarnya, tapi akan menjadi rumit bila kamu membutuhkan stok pakaian tambahan namun tidak menemukan satu pun yang sesuai dengan ukuran kamu.

Itaewon di Malam Hari. Credit: Source

Saking penuhnya dengan bule, sampai sempat tersebar guyonan di kalangan pendatang dari belahan dunia barat. Mereka mungkin tidak mengenal Seoul seutuhnya, tapi mereka pasti paham setiap detil dari Itaewon. Tidak heran memang.

Pemerintah Seoul sengaja mengkondisikan Itaewon sebagai distrik spesial untuk para wisatawan asing. Bahkan sampai setiap papan keterangan yang terdapat di Itaewon, ditulis dalam tiga huruf. Huruf arab, huruf latin dalam bahasa Inggris, serta huruf kebanggaan Korea, Hangeul.

Begitu pula dengan papan – papan penunjuk toko. Kebanyakan ditulis dalam bahasa Korea sekaligus bahasa Inggris. Sangat memudahkan bila kamu benar – benar buta mengenai bahasa Korea.

Salah satu gang di distrik Itaewon. Credit: Source

Di sisi lain, karena pusatnya bule dan kebanyakan memang wisatawan, kamu bisa mencari rekan sesama traveler untuk berbagi tips – tips seru menjelajah Seoul. Plus, berbagi spot wisata menarik yang mungkin jarang diulas oleh media.

Apa saja yang bisa kamu temui? Kebanyakan di Itaewon adalah toko – toko yang menjajakan aneka kebutuhan wisatawan sekaligus toko barang antik. Khusus mengenai peredaran barang antiknya, Itaewon menduduki peringkat pertama bagi para kolektor.

Toko barang antik di Itaewon. Credit: Source

Aneka furnitur, lukisan, serta beberapa dekorasi rumah lainnya yang dijajakan di sini, kebanyakan merupakan barang antik khas Barat.

Sayangnya, setiap barang antik yang didagangkan tidak bisa disebut murah. Maklum, toko – toko di Itaewon jauh jika dibandingkan pasar barang bekas. Di sini semuanya dikemas eksklusif. Tertata apik.

Nah, bila kamu tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli barang – barang tersebut, window shopping pun sudah lebih dari menyenangkan. Terutama bagi kamu yang tertarik dengan budaya Medieval. Ini surganya. Bawa kamera dan cepret sana cepret sini. Pastikan kamu meminta ijin terlebih dulu pada pemilik toko tentunya.

Selain itu, Itaewon juga menjadi pusatnya aneka restoran dari berbagai belahan dunia. Mudahnya, berada di sini, kamu seperti telah berkeliling dunia untuk mencicipi beragam kuliner unik.

Berbagai macam restoran tersebar di Itaewon. Credit: Source
kamu bisa memulai dengan aneka kue menggoda khas Jepang, menikmati ramainya sensasi rasa sajian India, kemudian ditutup dengan sisha bila kamu berminat. Tinggal jalan kaki dan loncat ke sana kemari, karena letak resto – resto ini memang berdekatan.

Kamu yang memeluk ajaran Islam pun tidak risau, di Itaewon juga terdapat beberapa restoran halal. Bahkan kamu bisa menemukan Muslim Mart! Toko yang menjajakan aneka kebutuhan sehari – hari.

Yang halal tentu saja. Mengingat Islam bukan agama mayoritas di Korea, tentunya ini seolah menjadi oase bila kamu kesulitan mencari kebutuhan sehari – hari namun terhambat karena keraguan atas kehalalan barang atau makanan yang akan kamu beli.

Berada di area yang sama, juga terdapat beberapa toko yang menjajakan berbagai keperluan busana untuk muslim. Coat panjang, jilbab, serta beberapa aksesorinya. Untuk harga, tentunya kamu tidak bisa membandingkannya dengan harga yang mungkin kamu peroleh untuk barang yang sama di Indonesia. Tapi tenang, meskipun sedikit mahal, kualitas yang kamu peroleh pun akan sepadan.

Menginjak malam, area Itaewon berubah menjadi lebih ramai oleh dentuman musik. Ya, Itaewon memang memiliki banyak club dan bar. Sekali lagi, ini pusatnya bule. Berkunjung ke bar di malam hari bagi bule, adalah salah satu sarana untuk bersosialisi.

Distrik Itaewon yang selalu ramai pada malam hari. Credit: Source
Kamu bisa memilih satu di antara beberapa club yang tersedia. Begitu masuk ke dalamnya, mungkin kamu akan lupa kalau kamu sedang berada di Seoul. Saking penuhnya bule di sana. Yang ada justru penduduk asli Korea yang terlihat seperti wisatawan. Maklum, sekitar 70% dari pengunjung Itaewon adalah wisatawan dari belahan dunia barat.

Satu yang perlu kamu perhatikan. Beberapa dari sekian bar yang berada di Itaewon, merupakan tempat berkumpulnya orang – orang yang memiliki orientasi seksual minoritas. Gay, lesbian, serta transgender. Sekilas melihat memang seperti tidak ada bedanya.

Banyak Bar yang menjadi tempat nongkrong di Itaewon. Credit: Source
Terutama untuk transgender. Pria yang beralih gender menjadi wanita, terlihat sama menariknya seperti orang yang memang terlahir sebagai wanita.

Paling pas bila kamu mengunjungi Itaewon pada sore hari. Ketika matahari sudah mulai sedikit terbenam. Acara bisa kamu lanjutkan dengan langsung mengunjungi puluhan pilihan resto yang tersedia. Cukup mudah pula. Kamu bisa mengunjungi Itaewon dengan menggunakan Subway yang menuju Itaewon Station Line 6

Wednesday, November 30, 2022

Wisata Belanja Di Pattaya Thailand


Berbelanja Di Pattaya Thailand

Credit: Source
Kegiatan belanja merupakan hal yang paling digemari oleh banyak orang, terutama dari kalangan perempuan. Ketika berwisata sekalipun kegiatan belanja tak pernah berhenti. Makanya itu, banyak tempat wisata yang sekaligus juga menyediakan tempat berbelanja bagi para pengunjungnya sehingga bak “sambil menyelam minum air”.

Sambil berwisata juga sekalian memuaskan hasrat berbelanja. Pusat-pusat wisata Asia seperti Kuala Lumpur, Jakarta, Hongkong, Bangkok, Tokyo dan lainnya pasti memiliki tempat yang asyik untuk berbelanjanya kalangan pendatang (wisatawan).

Suasana kota Pattaya di malam hari. Credit: Source

Bagaimana dengan kamu? Tentu kamu juga berfikiran yang serupa bukan? Karena seakan sia-sia saja kamu mengunjungi suatu tempat wisata tidak dibarengi dengan aktifitas berbelanja. Kecuali bagi kalangan backpacker yang memang tujuan berwisata ke suatu daerah hanya untuk merasakan sensasi dan keindahan petualangan dengan membawa bekal alakadarnya.

Makanya fokus para backpacker bukan untuk mencari barang-barang yang bisa dijadikan oleh-oleh khas suatu daerah yang dikunjunginya, melainkan bagaimana bisa bertahan dalam kondisi apapun sekalipun dengan bekal tiris.

Begitu juga dengan Pattaya di Thailand yang tentunya memiliki andalan sejumlah tempat wisata dan belanja sekaligus. Mungkin para wisatawan yang berwisata ke Thailand lebih mengkonsentrasikan kegiatannya di Bangkok sebagai sentralnya Thailand, karena mereka tidak mengetahui bahwa Pattaya memiliki pasar atau tempat perbelanjaan yang lengkap dan menarik.

Suasana Walking Street, Pattaya di malam hari. Credit: Source
Pattaya memiliki tempat belanja yang lengkap mulai dari mall-mall megah dengan segala kelengkapan barang yang dijualnya dan ber-AC, sampai pasar atau warung pinggir jalan yang menjajakan barang dagangan dengan harga yang bisa ditawar.

Kalau kamu membutuhkan pakaian modis untuk pergi ke pesta atau menghadiri acara spesial kerabat, teman bisnis atau bahkan pacar—jika kebetulan punya pacar orang Pattaya—maka bisa langsung mengunjungi mall besar yang berada tak seberap jauh dari pusat kota.

Pattaya memiliki mall-mall besar yang mudah ditemukan karena ketersohoran namanya dan juga lokasinya yang strategis sehingga semua angkutan mengetahui dan menuju ke arah pusat perbelanjaan tersebut. Central Festival Pattaya ialah salah satu mall besar dan paling populer di Pattaya sehingga dengan mudahnya kamu bisa menemukannya.

Central Festival Mall Pattaya. Credit: Source
Tak hanya itu, Pattaya juga masih memiliki pusat perbelanjaan yang lainnya seperti The Avenue Pattaya, Royal Garden Pattaya, Mike Shopping Centre dan lainnya. Kesemua mall tersebut memiliki toko satelit dan department store dimana kamu bisa berbelanja sepuasnya untuk memenuhi berbagai kebutuhan selama di kota ini.

Begitu juga kalau kamu lapar tinggal bergegas ke gerai-gerai makanan cepat saji yang bisa dengan mudahnya ditemukan disini seperti McDonalds, KFC, Pizza Hut dan juga King Burger. kamu tinggal pilih saja mau makanan yang mana?

Belanja di pusat perbelanjaan yang indoor di Pattaya tidaklah mahal. Kamu tahu setelah format factory outlet terkenal di negara-negara Barat, ada outlet mall di Pattaya dimana kamu bisa menemukan berbagai merk fashion terkenal yang berasal dari berbagai penjuru dunia dengan harga yang miring (harga pabrik).

Hal tersebut tentu saja menjadi pilihan berbelanja yang terbaik dan nyaman dimana kamu bisa mendapatkan berbagai barang murah dengan kualitas yang terbaik. Oleh sebab itu, selagi ada di Pattaya jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan barang-barang berkualitas itu.

Tidak lupa pula untuk memilih barang-barang berkualitas dengan harga diskon. Biasanya kalau cuci gudang atau ada momen-momen tertentu seperti libur akhir tahun, perayaan Natal, Lebaran dan lainnya banyak outlet yang akan banting harga sampai ke level yang terkadang tak masuk akal.

Outlet mall di Pattaya memiliki sampai 200 merk yang bisa kamu pilih sepuasnya. Hal itu belum termasuk dengan merk internasional yang namanya sudah berkibar dan diburu di berbagai negara. Tempatnya yang luas membuat siapapun yang berbelanja disini bisa leluasa untuk memilih barang-barang yang diinginkannya.

The Avenue Pattaya. Credit: Source

Dilengkapi juga dengan parkiran mobil yang bisa menampung puluhan bahkan ratusan mobil membuat kamu yang membawa mobil kesini tidak perlu gusar atau khawatir untuk menyimpan mobil dimana. Begitu juga dengan ketersediaan restoran-restoran akan membuat perut kamu dimanjakan dengan aneka sajian lokal maupun internasional.

Kalau kamu kurang terbiasa dengan sajian lokal maka bisa memilih menu dari Indonesia yang juga bisa ditemukan disini. Kamu tinggal bertanya kepada penjaga keamanan atau salah satu pelayan outlet mall dimana keberadaan resto yang menjual aneka masakan Indonesia.

Sedangkan kalau kamu ingin berbelanja di tempat yang barang-barang jualannya bis ditawar ya tinggal pergi ke pasar Pattaya. Disini kamu dapat menawar pelbagai barang diinginkan dengan sepuasnya. Harganya bisa lebih murah 10-40% ketika kamu berbelanja di pasar jalanan. Namun begitu, kamu juga jangan sampai hilang kewaspadaan karena ada banyak calo yang berkeliaran.

Toko buah di Mike Shopping Centre. Credit: Source

Selain itu, patut juga diperhatikan adat dan sikap kamu saat berbelanja dengan orang lokal. Sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu seperti apa etiket yang berlaku dan lazim dilakukan ketika bertransaksi dengan pedagang lokal.

Yang jelas hal umum yang harus dilakukan dan termasuk dalam etiket ketika belanja di pasar tradisional di Pattaya ialah tetap menyunggingkan senyum, berlaku sopan dan ramah, dan menawar dalam batas kewajaran.

Pasar jalanan yang paling populer di Pattaya ialah Soi Buakhao Pattaya yang biasa bukanya hari Selasa dan Jumat dan juga Pasar Thepprasit di dekat Sukhumvit Road yang merupakan pasar akhir pekan.

Pattaya Floating Market. Credit: Source

Begitu juga dengan Pattaya Floating Market yang tak boleh absen untuk kamu kunjungi. Selain itu, kamu juga akan menemukan toko-toko dan warung pinggir jalan yang menuju ke pantai Pattaya. Toko-toko itu menjual berbagai pakaian, lotion untuk melindungi dari sengatan sinar matahari, pakaian berenang dan lainnya. Itulah kondisi pasar dan pusat perbelanjaan di Pattaya.

Montmartre Tempat Lahirnya Seniman di Paris


Montmartre dilihat dari kejauhan. Credit: Source
Berkunjung ke Montmartre, anda akan merasakan suasana Paris yang lain. Selain karena letaknya di bukit yang tinggi (130 meter di atas permukaan laut, titik tertinggi di kota Paris), Montmartre terasa sangat tradisional dan berseni. Jika anda sudah pergi ke museum-museum ternama di kota Paris dan melihat lukisan-lukisan indah karya Pablo Picasso, Vincent van Gogh, Salvador Dali, atau Pierre-Auguste Renoir… dari sinilah karya-karya tersebut dilahirkan.

Montmartre, Mountain of the Martyr, dinamai demikian dari sejarah St. Denis – Uskup dan santo pelindung kota Paris – yang dipenggal di atas bukit sekitar tahun 125 saat era penyiksaan orang-orang Kristen. Beredar mitos di masyarakat bahwa setelah dipenggal St. Denis masih bisa memungut kepalanya dan membawanya ke puncak bukit, namun ia tak sanggup menyelesaikannya dan wafat di perjalanan. Di tempat itulah kemudian dibangun Basilique du St. Denis, sebuah gereja megah bergaya gothic yang digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarga kerajaan Perancis.

Awalnya perbukitan ini digunakan sebagai biara Katolik, sampai kemudian sekitar abad ke-14 Raja Henry IV menggunakannya sebagai pusat persenjataan perang. Tempatnya yang tinggi memudahkan tentara-tentara Perancis menembakkan peluru dari artileri mereka ke tengah kota.

Tentara Rusia terinspirasi oleh ide ini, sehingga pada abad ke-18 mereka juga menggunakan Montmartre untuk membombardir kota Paris dan merebutnya dari tangan Perancis. Setelah peperangan mereda, pada pertengahan abad ke-19 tempat ini dijadikan tempat tinggal oleh beberapa seniman.

Semakin banyak seniman berdatangan ke Montmartre dan bahkan membuka studio, seperti Pablo Picasso dan Amedeo Modigliani yang berkarya di komunitas Le-Bateau Lavoir, sehingga kemudian menjadikan Montmartre pusat seni di Paris.

Di bukit ini berdiri Basilika Sacre-Coeur, sebuah gereja bergaya Roman-Byzantium yang profilnya cukup terlihat dari seluruh penjuru kota Paris karena letaknya tepat di bukit tertinggi. Basilika Sacre-Coeur dibangun selama hampir empat dekade dan baru selesai pada tahun 1914.

Basilika Sacre-Coeur di malam hari. Credit: Source

Yang unik adalah bahwa gereja ini dibangun atas inisiatif beberapa orang yang bernazar akan membangun gereja jika perang antara Perancis dan Prussia berakhir dengan damai, yang ternyata benar-benar terjadi pada tahun 1874. Sacre-Coeur dibangun dari batu istimewa berwarna putih yang menjaga warna dindingnya agar tidak pudar. Batu tersebut menjadikan Basilika Sacre-Coeur terlihat berkilau seperti mutiara di atas bukit jika dilihat dari kota pada malam hari.

Meskipun dijadikan tempat beribadah umat Katolik, Basilika Sacre-Coeur dibuka untuk turis dengan syarat tidak diperkenankan membuat keributan dan penggunaan kamera di dalam gereja tidak diperbolehkan sama sekali. Rombongan yang masuk diawasi dengan ketat oleh penjaga gereja, dan jika didapati ada orang memotret bagian dalam gereja maka akan diminta untuk menghapus gambarnya di situ juga.

Suasana Cafe pada malam hari di Montmartre. Credit: Source

Jangan khawatir, di luar gereja anda boleh foto-foto sepuasnya. Gereja dibuka mulai pukul 6 pagi hingga pukul 10 malam. Anda juga bisa naik ke puncak kubah gereja dan melihat kota Paris dari ketinggian.

Berjalan-jalanlah dari sekitar Basilika ke arah kanan menuju Place du Tertre, tempat sibuk serupa pasar tempat para seniman berkumpul dan memamerkan hasil karyanya. Anda bisa menikmati para pelukis membuat lukisan di atas kanvas atau melihat penampilan para musisi jalanan sambil duduk-duduk santai di cafe atau bistro.

Namun jika anda ingin menikmati suasana yang lebih tenang, ambillah jalan ke kiri dari Basilika Sacre Coeur, tempat anda bisa melihat suasana pedesaan Perancis yang orisinal. Rumah-rumah bergaya klasik dan art-deco membuat anda seakan melayang ke dunia lain. Nikmatilah waktu sejenak di surga kecil tempat syuting film Amelie, La Vie en Rose dan Moulin Rouge ini sebelum kembali ke riuhnya kota Paris.

Suasana jalanan di Montmartre. Credit: Source

Tempat seindah Montmartre membutuhkan usaha ekstra. Gunakan metro line 12 dan berhentilah di stasiun Abbesses, anda akan menemukan area yang berisi restoran-restoran yang layak untuk dijadikan tujuan wisata kuliner asli Perancis. Jika anda ingin langsung menuju Basilika Sacre Coeur, pemberhentian stasiun Anvers (Line 2) membawa anda langsung ke kaki Basilika via Rue Steinkerque.

Dari situ anda bisa menaiki anak tangga atau jika anda lelah, ada funicular yang tersedia dengan harga yang sama dengan tiket metro sekali jalan. Sekedar tips praktis, di sekitaran stasiun metro banyak toko souvenir yang harganya relatif lebih murah daripada toko-toko serupa di daerah pusat.

Daerah pusat Montmartre yang selalu ramai. Credit: Source

Yang perlu diperhatikan oleh para wisatawan yang berkunjung ke area ini adalah adanya banyak laporan kriminalitas yang terjadi. Jika anda ke Basilika menggunakan tangga mungkin ada orang-orang yang akan menawari anda suvenir. Katakan saja tidak, karena besar kemungkinan si penjual akan memberikan harga yang sangat mahal.

Ada modus lain yang digunakan untuk memeras wisatawan, yaitu dengan pura-pura mengembalikan cincin anda yang jatuh. Segeralah berpaling dan bergegas pergi karena jika anda terlanjur melihat cincin itu – bahkan hanya untuk mengecek apakah itu benar-benar cincin anda – mereka akan menagihkan harga yang sangat mahal, beberapa bahkan meminta 50 Euro untuk cincin yang bukan milik anda.

Penipuan macam ini juga terjadi di sekitaran Place du Tertre, dimana pelukis-pelukis palsu akan merayu anda untuk mau dilukis. Jika anda mengiyakan begitu saja, jangan terkejut jika setelah lukisan selesai mereka akan meminta uang yang jumlahnya cukup besar – sampai 80 atau 100 Euro – untuk lukisan yang jauh dari bagus.

Penjual jasa lukis di Montmartre. Credit: Source

Jika anda mau dilukis dengan layak, lebih baik ke bagian tengah Place du Tertre dan carilah pelukis yang karyanya bisa langsung anda lihat kualitasnya. Ah, dan jangan lupa menawar sampai sepakat dengan harganya sebelum anda mulai dilukis.

Montmartre adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu liburan dengan santai, di mana anda bisa memanjakan mata dengan berbagai macam obyek seni yang menarik, termasuk beramah-tamah dengan orang lokal. An old French style in the heart of Paris.